Tentang Agama Baha'i yang Muncul dalam Video Menag

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 17:41 WIB
Jakarta -

Video Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB ke komunitas Baha'i disorot. Agama Baha'i ini diketahui merupakan agama baru yang bukan percabangan agama lain.

Sebelumnya, berdasarkan pantauan detikcom, Selasa (27/7/2021), netizen mempertanyakan apakah Baha'i sudah menjadi agama resmi di Indonesia atau tidak. Selain itu, netizen mempertanyakan Menag yang memberikan ucapan selamat hari raya ke komunitas Baha'i.

Video lengkap pernyataan Menag itu diunggah juga di akun YouTube Baha'i Indonesia. Video itu diunggah pada 26 Maret 2021. Lantas, bagaimana asal mula agama Baha'i ini muncul?

Pertama Muncul di Iran

Dikutip dari laman komunitas Baha'i, agama ini pertama kali muncul dan berkembang di Iran pada 1844. Agama ini bermula dari ajaran perdamaian Sayyid 'Ali Muhammad atau yang dianggap sang Bab. Agama ini sempat dianggap sebagai sempalan Islam-Syiah. Sebelum revolusi Iran, agama ini pun sempat diakui walaupun selanjutnya tidak diakui.

Agama ini kemudian terus menyebar ke berbagai negara, dari India hingga Singapura. Salah satu penyebarnya adalah Jamal Effendi.

Agama ini masuk ke Indonesia pada abad ke-19 ketika rombongan Jamal berkunjung ke Surabaya dan singgah ke Bali. Pemberhentian mereka selanjutnya adalah Makassar di Pulau Sulawesi. Menggunakan sebuah kapal kecil, mereka berlayar ke Pelabuhan Parepare. Mereka disambut oleh Raja Fatta Arongmatua Aron Rafan dan anak perempuannya, Fatta Sima Tana. Fatta Sima Tana, belakangan, menyiapkan surat-surat adopsi untuk dua orang anak asli Bugis, bernama Nair dan Bashir, untuk membantu dan mengabdi di rumah di Akka. Sang raja juga sangat tertarik dengan agama baru ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Sedendring, Padalia, dan Fammana.

Menggunakan sampan, mereka melanjutkan perjalanan sepanjang sungai sampai mereka tiba dengan selamat di Bone. Di sini, Raja Bone, seorang lelaki muda dan terpelajar, meminta mereka menyiapkan suatu buku panduan untuk administrasi kerajaan dan Sayyid Mustafa Rumi melaporkan bahwa mereka telah menulisnya sejalan dengan ajaran-ajaran Baha'i. Agama ini pun terus mendapatkan pengikutnya di Indonesia.