Pustaka

Geliat Agama di Tengah Wabah

Rachmanto - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 08:56 WIB
Geliat Agama di Tengah Wabah
Jakarta -
Judul Buku: Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid-19; Editor : Dicky Sofjan & Muhammad Wildan; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember, 2020; Tebal : xx + 338

Pandemi kembali membuka "luka lama" hubungan agama dengan sains. Begitu pernyataan Dicky Sofjan dalam prolog buku ini. Dia mencontohkan, ada kaum agamawan yang tidak mempercayai dokter, periset medis, dan epidemiolog. Mereka percaya bahwa "Allah lebih hebat dari corona", "air wudhu dapat mencegah Covid-19", "darahku bercampur dengan darah Yesus", dan sebagainya.

Di sisi lain, ada kelompok saintis yang kerap memandang semua orang beriman adalah antisains dan tidak bisa berdialog secara rasional mengenai Covid-19. Meskipun begitu, pandemi pun menunjukkan agama bisa lentur terhadap perubahan. Dia tidak stagnan yang mengakibatkannya gagal dalam mengatasi persoalan manusia. Tetapi bertahan dengan berbagai ijtihadnya.

Buku Virus, Manusia, dan Tuhan ini menawarkan pandangan positif tentang agama. Bahwa agama bisa memainkan peran signifikan dalam situasi penuh tekanan bernama pandemi Covid-19. Bahwa masih ada kelompok agama yang kaku dalam memandang wabah corona memang tidak bisa dipungkiri. Tetapi masih banyak yang berpandangan terbuka hingga bisa menanggapinya dengan luwes.

Kumpulan tulisan dalam buku ini menggunakan berbagai perspektif agama yang berbeda; sudut pandang Islam, Katolik, Kristen, Konghucu, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Baha'i, Buddha, dan juga penghayat. Dapat dikatakan, buku ini berhasil merepresentasikan sudut pandang tradisi agama dan kepercayaan mengenai tema wabah virus corona.

Tidak Mengejutkan

Engkus Ruswana memaparkan tentang sistem kepercayaan dan agama leluhur Nusantara. Bagi mereka, bumi adalah ibu, langit sebagai bapak, dan anasir alam --api, angin, dan tanah-- merupakan sedulur (saudara). Jika manusia sayang dengan alam, maka alam akan memberikan kasih sayangnya kembali. Tetapi saat manusia melakukan kejahatan terhadap alam, alam niscaya membalasnya.

Bagi penganut penghayat kepercayaan, kehadiran pandemi Covid-19 bukan hal yang mengejutkan. Penyebabnya, perilaku alam yang berubah akibat perilaku manusia. Seperti meningkatnya suhu udara, ketidakteraturan iklim, menipisnya sumber air bersih, dan berbagai bencana alam. Maka musibah wabah merupakan cara alam untuk menyeimbangkan diri. Upaya yang dilakukan dalam adaptasi kebiasaan baru dan di masa-masa yang akan datang adalah dengan menghargai dan mencintai alam. Jika manusia tidak bisa mengubah sifat tamaknya, bencana demi bencana akan datang silih berganti..

Pandangan di atas memberikan peringatan keras kepada insan yang kerap mendaku sebagai makhluk tuhan dengan kewenangan tinggi atas alam. Kewenangan ini sejatinya merupakan kenikmatan dan harus dilakukan secara bertanggung jawab. Apabila diabaikan, dapat berubah menjadi musibah. Manusia yang tidak bisa menahan keserakahan menyebabkan dirinya berlaku semena-mena terhadap alam. Mengeksploitasi tanpa henti hingga menimbulkan berbagai kerusakan alam. Jika manusia masih terus melakukan aksi jahatnya terhadap alam, jagat raya tidak akan berhenti memberikan balasan yang setimpal.

Pandangan tersebut bisa dilihat relevansinya dengan kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19. Misalnya upaya menekan peredaran virus corona dilakukan dengan lock down. Selama penerapan kebijakan ini, orang-orang dipaksa berdiam diri di rumah dan mengurangi kegiatannya di luar. Penggunaan berbagai moda transportasi menurun. Gas buang kendaraan pun berkurang. Akhirnya, udara yang selama ini tanpa henti dikotori manusia bisa kembali bersih. Dan itulah cara alam menyeimbangkan dirinya.

Perilaku pemeluk agama saat pandemi juga perlu diperhatikan. Fatimah Husein menulis tentang Covid-19 yang menyebabkan pemisahan antar-pemeluk agama. Dia menyatakan narasi keagamaan di masa pandemi berperan memperkuat segregasi para umat beragama. Narasi keagamaan pun memperlemah ikatan hubungan antaragama yang di lapisan bawah masyarakat. Kontekstualisasi beragama (seperti diperbolehkannya mengganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur) tertutup oleh narasi yang bersifat tunggal. Hal ini berpotensi membangun segregasi antarwarga yang berbeda agama dan keyakinan.

Salah satu contohnya, dalam grup medsos yang diteliti, ada salah satu anggota yang mem-posting tentang Covid-19 berdasarkan narasi agama Protestan. Posting-an itu kemudian direspons oleh anggota lainnya dengan narasi agama Islam. Berbagai posting-an tersebut sejatinya bertujuan untuk memberi kekuatan selama pandemi. Tetapi ketika disampaikan melalui medsos (ruang publik), bisa menimbulkan isu antar-pemeluk agama. Dapat dikatakan, masyarakat masih belum bisa melepaskan identitas keagamaannya dalam ruang yang semestinya netral.

Menaburkan Harapan

Di tengah ketidakpastian mengenai kapan berakhirnya pandemi (dan Indonesia telah menembus 1 juta kasus positif Covid-19 dan munculnya varian baru di luar negeri), karya ini hadir untuk menaburkan harapan. Bahwa tradisi agama dan keyakinan bisa menjadi salah satu inspirasi untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan dan ancaman. Agama yang bisa menggerakkan manusia untuk melakukan kebajikan dan menawarkan alternatif bagi masalah global. Bukan agama yang kaku dan menyeramkan (yang sering dipertontonkan segelintir kecil kalangan). Wajah agama seperti inilah yang diharapkan hadir dan ditunjukkan oleh para pemeluknya. Hingga agama dapat menjadi kebaikan bagi semesta alam.

Enam belas tulisan yang tersaji dalam buku ini tentu sangat sedikit dibandingkan dengan ragam respons dan pemaknaan agama atas bencana. Masih banyak kajian dan refleksi yang bisa disodorkan. Contoh mudah saja, buku ini belum memuat tulisan yang secara khusus membahas dua ormas besar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Padahal keduanya berperan aktif dalam merespons pandemi Covid-19 sejak awal hingga saat ini, baik di level pusat maupun akar rumput. Satu tulisan dari Moch Nur Ichwan memang menyebut NU dan Muhammadiyah, tetapi baru sepintas. Oleh sebab itu, pembaca dipersilakan mencermati isu agama dan bencana lebih dalam.

Rachmanto mahasiswa Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan SPs UGM, fokus riset tentang respons komunitas agama terhadap pandemi

(mmu/mmu)