Pria di Bali Tewas Dikeroyok Debt Collector karena Tunggakan Kredit Motor

Sui Suadnyana - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 16:33 WIB
Denpasar -

Pria berinisial MD (34) tewas dikeroyok sejumlah debt collector di Bali. Video korban bersimbah darah usai pengeroyokan sempat viral di media sosial.

Peristiwa tersebut terjadi di persimpangan Jalan Subur-Jalan Kalimutu, tepatnya di Banjar Munang-Maning, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar. Polisi berhasil meringkus 7 tersangka dari kasus tersebut, yakni WS, FK, BB, JBL, GBS, GB, dan DBB.

"Dari hasil pengembangan, kita berhasil mengamankan 7 orang tersangka," kata Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Panjaitan saat konferensi pers di Mapolresta Denpasar, Senin (26/7/2021).

Selain itu, kakak MD bernama KW turut menjadi korban. Hanya, ia berhasil selamat meski terluka di beberapa bagian tubuhnya.

Jansen menjelaskan pengeroyokan terjadi pada Jumat (23/7) sekitar pukul 16.45 Wita. Awalnya 4 debt collector dari PT BMMS datang ke kamar kos KW sekitar pukul 14.00 Wita untuk menarik sepeda motor Yamaha Lexi berpelat DK-2733-ABO karena kredit tak kunjung dibayarkan.

Saat itu tidak ada kesepakatan antara KW dan 4 debt collector tersebut. Akhirnya kedua belah pihak sepakat menghadap ke kantor PT BMMS.

KW mengajak MD ke kantor PT BMMS dengan mengendarai Honda Beat DK-6016-QF. Sampai di sana, terjadilah pengeroyokan terhadap MD dan KW.

MD dan KW mencoba melarikan diri, tapi dikejar oleh para pelaku. MD dikejar sampai simpang jalan Subur-Jalan Kalimutu dan dibacok dengan pedang hingga oleh para pelaku.

"Di sanalah terjadi penebasan dengan senjata tajam jenis pedang oleh WS. Jadi dikejar oleh tersangka WS dengan menggunakan pedang," tutur Jansen.

Baca berita selengkapnya di halaman berikutnya.

Adapun peran masing-masing pelaku adalah WS selaku tersangka utama melakukan penebasan terhadap korban MD, FK melakukan pemukulan dan pelemparan dengan batu, BB mengeluarkan pedang dari kantor dan JBL melempar korban dengan kursi plastik, dan memukul dengan tangan kosong.

Selanjutnya GBS, GB, serta DBS sama-sama sempat melempar korban dengan kursi plastik dan memukul korban dengan tangan kosong.

Dari tangan para tersangka, polisi berhasil menyita barang bukti berupa sebilah pedang gagang pegangan terlepas yang digunakan pelaku WS untuk menebas korban MD, 4 buah pedang yang ditemukan di kantor PT BMMS dan 3 buah kursi plastik untuk melempar korban. Kemudian juga diamankan sebuah batu untuk melempar korban, 2 unit sepeda motor milik korban yang dibawa ke PT BMMS, 1 unit sepeda motor Yamaha Lexi DK-2733-ABO yang ditarik oleh PT BMMS.

Polisi menjerat para tersangka dengan perkara tindak pidana pembunuhan dan atau pengeroyokan dan/atau penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan/atau membawa atau menguasai senjata tajam. Hal ini sesuai dengan Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan/atau Pasal 170 ayat (2) ke-1, ke-3 KUHP, Pasal 351 ayat (3) KUHP dan/atau Pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

"Pasal 338 KUHP diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 170 ayat (2) ke-1, ke-3 KUHP diancam karena secara bersama sama menggunakan kekerasan terhadap orang pidana penjara paling lama dua belas tahun," terang Jansen.

"Pasal 351 ayat (3) KUHP diancam karena Penganiayaan mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun dan Pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 diancam karena mempergunakan senjata penikam atau senjata penusuk, diancam dengan pidana penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun," imbuh Jansen.

(aud/aud)