3 Sunnah Tayamum dalam Ajaran Islam

Kristina - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 11:08 WIB
One day One Hadits berpuasa ketika melihat Hilal
3 Sunnah Tayamum dalam Ajaran Islam (Foto: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Ada beberapa cara bersuci dalam Islam, salah satunya tayamum. Namun, tayamum hanya boleh dilakukan jika tidak menemukan air.

Tayamum disyariatkan dalam Al Quran, sunnah, dan juga ijtima'. Allah SWT berfirman dalam QS. An Nisaa' ayat 43 sebagai berikut,

وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Artinya:"Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." (QS. An Nisaa': 43)

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang berasal dari Abu Umamah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Bumi ini dijadikan bagiku dan umatku sebagai tempat bersujud dan untuk bersuci. Kapan saja apabila salah seorang dari umatku mendapati waktu sholat, maka bumi baginya adalah alat bersuci," (HR. Ahmad)

Menurut pengertian syariat sebagaimana dijelaskan Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam bukunya Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, tayamum bermakna bersuci mengusapkan debu ke bagian wajah dan kedua tangan, dengan niat untuk mengerjakan sholat dan ibadah lain.

Tayamum dilakukan dengan menggunakan debu yang suci dan semua jenis tanah di bumi seperti pasir, batu, dan kapur. Pendapat ini merujuk pada surat Al Maidah ayat 6 yang berbunyi "maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci)."

Para ulama ahli bahasa sepakat bahwa tanah yang baik pada ayat tersebut adalah permukaan bumi, baik berupa tanah maupun yang lainnya.

Apa saja sebab tayamum?

Ada beberapa sebab yang menjadikan seseorang boleh melakukan tayamum.
Tayamum diperbolehkan bagi orang yang berhadats kecil atau besar, baik dalam keadaan muqim atau safar (dalam perjalanan) jika menemui salah satu sebab berikut ini:

1. Jika tidak ada air untuk bersuci atau jika terdapat air namun air tersebut tidak mencukupi untuk bersuci.

2. Jika memiliki luka, sedang sakit atau khawatir sakitnya akan semakin parah atau khawatir penyakitnya akan lama sembuh jika bersuci menggunakan air. Hal ini diketahui berdasarkan pengalaman atau menurut dokter.

3. Jika air yang ada sangat dingin dan menurut perkiraan akan menimbulkan bahaya (mudharat) jika digunakan untuk bersuci. Kondisi ini diperbolehkan dengan syarat air tersebut tidak bisa dihangatkan, atau tidak mampu membeli air normal, atau tidak mudah masuk kamar mandi.

4. Jika lokasi air dekat namun dikhawatirkan akan terjadi bahaya atas dirinya, kehormatan, atau hartanya atau dikhawatirkan tertinggal dari rombongan dalam perjalanan atau ada sumber air tai dihalangi oleh daerah berbahaya.

Sementara itu, menurut Syaikh Abu Bakar Jabar Al-Jazairi dalam kitab Minhajul Muslimin, tayamum disyariatkan bagi orang yang tidak menemukan air setelah mencarinya dengan susah payah. Selain itu, orang yang sakit atau khawatir sakitnya akan bertambah parah jika menggunakan air untuk bersuci maka ia boleh bertayamum.

Merujuk pada penggalan QS At-Taghabun ayat 6, orang yang menemukan air namun tidak mencukupi untuk bersuci, maka diperbolehkan baginya berwudhu dengan air seadanya dan melanjutkan bagian lainnya dengan tayamum.

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian..." (QS. At-Taghabun: 16)

Sunnah Tayamum

Tayamum dilakukan dengan mengusapkan debu ke muka dan kedua tangan. Adapun, sunnah tayamum sebagaimana dijelaskan dalam kitab Minhajul Muslimin ada 3 sebagai berikut:

1. Membaca basmalah.

2. Tepukan kedua. Tepukan pertama adalah fardhu dan sudah cukup, sedangkan yang kedua adalah sunnah.

3. Mengusap kedua hasta bersama kedua telapak tangan. Mengusap telapak tangan saja sudah memadai atau dianggap sah. Hal ini berkaitan dengan perbedaan pendapat mengenai arti "kedua tangan" dalam ayat tayamum.

Niat tayamum

Klik Halaman Selanjutnya untuk membaca