63 Pekerja Migran RI di Malaysia Berhasil Dipulangkan

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 23:17 WIB
BP2MI
Foto: BP2MI
Jakarta -

Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) bekerja sama dengan kementerian/lembaga memfasilitasi kepulangan para pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia untuk kembali ke Tanah Air. Adapun BP2MI menyampaikan apresiasi kepada Kemlu, Kemenko PMK, Kemensos, Kemenkes, Kemenhub, Kementerian BUMN, Kemnaker, Satgas COVID-19, TNI, Polri, dan Angkasapura II.

"Kepulangan PMI ini sampai ke kampung halaman seluruhnya dibiayai oleh pemerintah. Bekerja ke luar negeri memang adalah hak setiap warga negara, dan negara wajib memfasilitasi. BP2MI memiliki kantor di daerah-daerah, sehingga PMI bisa datang langsung ke sana untuk mencari informasi yang benar. Jangan tergiur oleh informasi dari calo dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab," ungkap Kepala BP2MI, Benny Rhamdani, dalam keterangan tertulis, Kamis (21/7/2021).

Diketahui, kepulangan 63 PMI Terkendala tersebut merupakan kepulangan tahap ketiga. Sebelumnya, 276 PMI Terkendala dipulangkan pada tanggal 24 dan 27 Juni yang lalu. Adapun kepulangan PMI merupakan bagian dari rencana kepulangan 7.200 PMI dari
Malaysia.

Benny mengungkapkan, banyak dari PMI yang telah tinggal di depo tahanan imigrasi Malaysia melebihi masa tahanannya dengan kondisi yang kurang layak. Hal ini, katanya, menimbulkan masalah kemanusiaan bagi individu, utamanya kelompok rentan.

"Ke 63 PMI Terkendala tersebut berasal dari 3 depo tahanan imigrasi di Malaysia, yaitu sebanyak 32 orang dari depo Bukit Jalil, 26 dari depo Kemayan, dan 5 orang dari depo Beranang," lanjutnya.

Diketahui, PMI Terkendala dari Malaysia tersebut yakni 63 PMI Terkendala terdiri atas 50 perempuan dan 13 laki-laki. Sementara itu, kondisi kerentanan adalah yang sakit sebanyak 35, ibu dan anak sebanyak 22, lansia 5, dan ibu hamil 1.

Sedangkan berdasarkan daerah asal PMI Terkendala, yaitu Jawa Timur 19 orang, Sumatera Utara 16 orang, Aceh 5 orang, Jawa Barat 4 orang, Riau 4 orang, Lampung 3 orang, dan sisanya berasal dari 8 provinsi.

Dari 35 PMI yang sakit, kata Benny, sebagian besar merupakan penderita hipertensi dan diabetes sedemntara sisanya mengidap asma, hernia, dan bahkan dua orang mengidap HIV.

Dalam prosesnya, kepulangan para PMI Terkendala telah melewati prosedur protokol kesehatan ketat, test PCR, karantina, dan koordinasi dengan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk mengurangi potensi penyebaran COVID-19.

"Nanti semuanya akan diantar ke Wisma Atlet untuk dikarantina selama 8 hari. Itu juga demi keluarga di rumah, agar semuanya sehat. Saya tahu Ibu rindu dengan keluarga, tapi apa gunanya rindu kalau keluarga di rumah tidak sehat," jelas Benny.

Sebagai informasi, 63 PMI akan menjalani masa karantina selama 8 hari di Wisma Atlet Pademangan sesuai ketentuan Addendum Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dengan Nomor 8 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Pada Masa Pandemi COVID-19.

Penanganan yang dilaksanakan BP2MI selama dan setelah PMI menjalani masa karantina, di antaranya koordinasi dengan Satgas di Wisma Atlet Pademangan untuk penanganan karantina 8 hari, pendataan kepulangan ke daerah asal, serta fasilitasi pelaksanaan vaksinasi.

Selain itu, penyiapan RS Polri bagi PMI yang sakit dan membutuhkan perawatan lanjutan, penyiapan sarana transportasi untuk kepulangan PMI ke daerah asal setelah masa karantina baik via jalur darat, laut dan udara, dan penyiapan shelter sementara baik milik BP2MI maupun kerja sama dengan RPTC di Bambu Apus milik Kementerian Sosial.

Terakhir, BP2MI melakukan koordinasi dengan Pemda daerah asal untuk penanganan kepulangan yang dilakukan oleh UPT BP2MI dan penyiapan program reintegrasi sosial dan pemberdayaan di daerah asal PMI.

(prf/ega)