Mendes Puji Pendamping Desa yang Jaga Prokes Saat Kurban Idul Adha

Nurcholis Ma - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 18:07 WIB
Abdul Halim Iskandar
Foto: Dok. Kemendes PDTT
Jakarta -

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyerukan kepada pendamping desa menyukseskan pelaksanaan kurban di desa dengan selalu menjaga protokol kesehatan (prokes). Ia juga mengapresiasi langkah cepat pendamping desa selama pelaksanaan Idul Adha 1442 Hijriah ini yang berkoordinasi dengan pihak kabupaten dalam penerapan prokes.

"Pendamping desa telah membantu proses ibadah kurban di desa dengan tetap jaga protokol kesehatan demi menjaga keselamatan warga desa," kata Halim Iskandar dalam keterangan tertulis, Rabu (21/7/2021).

Ia mengungkapkan mendapat laporan dari pendamping desa dan Relawan Lawan COVID-19 yang telah melakukan penyemprotan desinfektan di masjid-masjid dan lapangan lokasi penyelenggaraan Salat Idul Adha. Ia menyebut saat ini telah terbentuk 1.117.066 relawan dan telah 26.083 desa yang telah melakukan penyemprotan desinfektan.

"Saat ini telah terbentuk 1.117.066 Relawan dan telah 26.083 desa yang telah lakukan penyemprotan desinfektan," ujarnya.

Diungkapkannya, kerja cermat pendamping desa dan relawan juga mengatur pelaksanaan salat Idul Adha. Relawan desa telah memilah tempat salat agar ada jarak aman antarjemaah. Warga desa pun langsung diarahkan untuk pulang ke rumah masing-masing usai pelaksanaan Khutbah Idul Adha.

"Sepanjang 2021, sebanyak 26.730 desa telah membagikan masker kepada warganya," kata Gus Halim, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut ia memuji pendamping desa dan relawan karena pelaksanaan dan pembagian daging kurban pun tetap menjaga protokol kesehatan. Seperti para pelaksana tetap menggunakan masker dan menjaga jarak saat memotong daging kurban. Pembagian daging kurban pun tidak luput dari protokol kesehatan.

Ia menyebut panitia harus menggunakan masker selama proses membagi daging kurban dan hanya meletakkan di depan rumah warga penerima. Pembagian daging kurban di lokasi penyembelihan juga diatur agar tidak menghasilkan kerumunan penerima.

"Bahkan ada juga pendamping desa yang mengawasi pembagian BLT Dana Desa yang juga utamakan protokol kesehatan," ujarnya.

Doktor Honoris Causa dari UNY ini mengingatkan tugas pendamping desa harus menjadi mata hati dan kaki tangannya kepala daerah. Ia menjelaskan selain melakukan pendampingan, pendamping desa juga dituntut lihai membaca dan menganalisa persoalan yang dihadapi masyarakat desa, kemudian dilaporkan kepada bupati atau wali kota setempat.

Pendamping Desa dan Relawan juga harus terus mengampanyekan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjaga jarak dan hindari kerumunan. "Sebaiknya kurangi mobilitas dan aktivitas dulu serta sebaiknya jangan dulu makan bersama," pungkasnya.

(ncm/ega)