Sejumlah Nakes Undur Diri, Syarief Hasan: Insentif Harus Cepat-Merata

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 23:09 WIB
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Baru-baru ini, beredar informasi sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang mengundurkan diri. Adapun kabar ini disampaikan oleh Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana Chaniago. Menurutnya, hal ini disebabkan karena banyaknya klaim atau insentif yang belum dibayarkan oleh pemerintah.

Merespons hal ini, Wakil Ketua MPR Syarief Hasan pun menyoroti komitmen dan perhatian pemerintah terhadap para nakes. Ia menyampaikan pemerintah seharusnya memberikan perhatian terhadap tenaga medis dan kesehatan. Mengingat mereka memiliki beban kerja yang berat dan berisiko tinggi.

"Para tenaga medis kesehatan bahkan bekerja mempertaruhkan jiwa mereka untuk menangani COVID-19. Pemerintah harus memberikan perhatian penuh," ujar Syarief dalam keterangan tertulis, Jumat (16/7/2021).

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga menyebutkan gaji tenaga kesehatan tergolong kecil dibandingkan beban kerjanya. Untuk itu, seharusnya insentif mereka dapat segera disalurkan.

"Mereka bekerja keras. Bahkan, beberapa relawan tenaga kesehatan mendapatkan gaji yang sangat kecil. Harusnya, insentif yang dijanjikan pemerintah segera disalurkan secara cepat dan merata," katanya.

Syarief insentif sebesar Rp 5-15 juta per bulan yang dijanjikan oleh pemerintah sebaiknya segera dibayarkan kepada para tenaga kesehatan. Terlebih, dalam laporan APBN 2020 anggaran kesehatan sudah tersedia dari hasil utang SBN.

"Mereka sudah dijanji dan beban mereka berat. Insentif November yang lalu baru cair bulan ini di beberapa wilayah," katanya.

"Di mana kesalahan birokrasinya? Seharusnya penyaluran anggaran kebutuhan tenaga kesehatan mendapat prioritas Utama. Ternyata pemerintah memang tidak siap menangani pandemi COVID-19," imbuh Syarief.

Terkait hal ini, Syarief khawatir banyaknya tenaga kesehatan yang mengundurkan diri berdampak terhadap penanganan pasien COVID-19. Bahkan, ia menyebut 100.000 per hari korban tertular dapat menjadi kenyataan. Pasalnya, kini dalam sehari terdapat lebih dari 50 ribu orang yang tertular. Kondisi ini, dikatakan Syarief, tentu membutuhkan tenaga kesehatan, terlebih banyak korban yang sedang dirawat.

Secara keseluruhan, kata Syarief, penanganan pandemi COVID-19 memang tidak terkendali. Bahkan, korban COVID-19 tertular tertinggi dunia per hari terus menjadi berita di beberapa media asing setiap harinya. Adapun hal ini juga menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam menangani COVID-19.

"Kini WHO sudah mengingatkan bahwa gelombang ketiga akan datang. Bagaimana kesiapan pemerintah dari semua sektor? Kalau tidak ada perbaikan yang komprehensif, rakyat dan bangsa kita akan semakin terpuruk. Pemerintah harus dan tidak perlu malu atau sensitive menerima masukan dari semua pihak, kita harus bersatu menghadapi pandemi COVID-19 agar kita bisa bangkit menata ekonomi kita lebih baik ke depan," pungkasnya.

(akn/ega)