2 Penyelundup 34 Kg Sabu asal Malaysia di Batam Divonis Bui Seumur Hidup

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 16 Jul 2021 15:59 WIB
Caucasian woman holding gavel
Ilustrasi Pengadilan (iStock)
Jakarta -

Sepak terjang duo penyelundup sabu internasional, Abdul Rahman (46) dan Iis Hariyanto (34), berakhir di palu hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam. Keduanya dihukum penjara seumur hidup karena membawa 34 kg sabu dari Malaysia ke Indonesia.

"Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," kata ketua majelis Adiswarna CH Putra dengan anggota Yoedi Anugrah Pratama dan Ferdinaldo Hendrayul Bonodikun, seperti dikutip detikcom dari putusan PN Batam yang dilansir website-nya, Jumat (16/7/2021).

Kasus bermula saat terjadi penyelundupan sabu dalam jumlah fantastis dari Malaysia pada 7 November 2020. Iis diberi titik koordinat penjemputan di tengah laut oleh Syamsusafir (DPO).

Pada 9 November 2020, Iis memerintahkan Syamsu Safir untuk menjemput paket narkoba itu dengan imbalan sejumlah uang. Syamsu lalu berangkat menggunakan kapal ke tengah laut antara Batam-Malaysia.

"Perbuatan yang sudah dilakukan Terdakwa adalah sebuah permufakatan jahat yang salah dan merupakan suatu pidana, terhadap penyebaran narkotika dan obat-obat terlarang mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan bukan hanya di Kota Batam ataupun Indonesia bahkan dunia," ujar majelis hakim.

Saat petang datang, kapal Syamsu didatangi kapal dari Malaysia. Bongkar-muat narkoba langsung dilakukan. Setelah bongkar-muat selesai, Syamsu kembali ke perairan Indonesia.

BNN yang sudah mengintai pergerakan Syamsu langsung menggerebek. Syamsu panik dan langsung terjun ke laut untuk berenang.

Berharap lolos dari kejaran aparat BNN, tapi usahanya sia-sia. Kekuatan renangnya kalah oleh mesin kapal.

Syamsul diringkus bersama satu tas isi sabu. Rencananya, paket itu akan dikirim ke Palembang dan diteruskan secara estafet ke Pulau Jawa.

"Di mana orang dengan mudah mendapatkan narkotika dari para bandar atau pengedar yang menjual di diskotek ataupun dunia hiburan malam. Dan Negara ataupun Pemerintah juga sudah tidak terhitung banyaknya usaha untuk memberantas narkotika, pengguna narkotika dan obat-obat terlarang," tutur majelis hakim.

Dari penangkapan Iis, ditangkaplah Abdul Rahman. Mereka akhirnya diadili dalam berkas terpisah.

Jaksa menuntut Iis dengan pidana penjara 20 tahun. Majelis tidak terima sebab tuntutan itu tidak menimbulkan efek jera terhadap pelaku peredaran gelap Narkotika dan prekursor narkotika.

"Namun kasus-kasus tersangkut narkotika dan obat-obat terlarang terus saja bermunculan dengan jawaban yang sederhana, yaitu bahwa unsur penggerak atau motivator utama pelaku adalah masalah keuntungan ekonomis," ujar majelis saat membacakan putusan.

"Tidak terkecuali dalam perkara a quo terhadap Terdakwa yang mengharapkan upah yang menggiurkan untuk membawa narkotika golongan I jenis sabu yang berasal dari Malaysia untuk dibawa ke daerah Palembang melalui Kota Batam," sambung majelis.

(asp/aud)