Kapan PPKM Darurat Terbukti Tekan Lonjakan Kasus COVID-19?

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 16:33 WIB
Pelaksanaan gerakan Purbalingga tiga hari di rumah saja mulai diterapkan hari ini. Suasana di Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah pun lengang.
Foto: Vandi Romadhon
Jakarta -

Indonesia kembali mencatat kasus positif tertinggi selama pandemi yaitu sebesar 47.899 kasus dengan positivity rate mencapai 30,1% Per 13 Juli kemarin. Lonjakan kasus ini pun menimbulkan pertanyaan apakah PPKM Darurat saat ini benar-benar ampuh mengerem kenaikan kasus COVID-19 saat ini?

Ketua Bidang Data Dan Teknologi Informasi Satgas COVID-19 Dr. Dewi Nur Aisyah menjelaskan PPKM Darurat tentu akan dapat menekan lonjakan penularan COVID-19 yang kini masif, namun dampaknya tidak akan langsung dirasakan oleh masyarakat dalam waktu dekat.

"Jadi yang pertama harus kita pahami, ketika sebuah intervensi dilakukan, pada hari itu juga bukan berarti penurunan kasus langsung kita lihat di hari itu juga, biasanya butuh waktu paling cepat 3 minggu sebenarnya," ujarnya secara virtual Rabu (14/7/2021).

Sebagai contoh, kata dia, kebijakan PPKM Mikro yang dilaksanakan pada awal Januari 2021 lalu. Selama 2 minggu berlangsung kasus COVID-19 masih terus naik ke puncak, baru setelah pekan ketiga ada penurunan setelah masyarakat rutin mematuhi protokol kesehatan.

"Jadi kita berharap bahwa intervensi yang dilakukan pengetatan aktivitas, pengetatan mobilitas, akan dapat mengerem kenaikan kasus dan mungkin dampaknya bisa kita rasakan 3-4 minggu setelah implementasi, baru mulau dirasakan pada saat implementasinya berjalan," jelasnya.

"Tapi lagi-lagi yang harus dipahami jadi kalau di epidemologi itu ada triangle, agent house environtment gitu ya, agent nya ini si virus jadi kalau ditanya kenapa lonjakannya bisa tinggi banget dari agent nya ternyata sudah ada mutasinya ini varian delta, yang ternyata secara saintifik terbukti memiliki penularan yang jauh lebih tinggi," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menyebut 'house' di sini punya pengaruh penting. Pasalnya, ketika tingkat kepatuhan masyarakat tinggi dari sebelumnya, tentu ini akan menekan transmisi penularan virus dari satu orang ke orang lain.

"Dan yang terakhir environtment ini kita ibaratkan seperti kebijakan dan policy, mulai dari tracing dan treatment, kemudian bagaimana strategis pembatasan mobilitas dilakukan, keluar masuk wilayah di batasi ini adalah dari environtment yang juga berpengaruh untuk mengerem atau enggaknya kasus ini, nanjak terus atau tidak," pungkasnya.

(akd/ega)