Tolong! Puskesmas Surabaya yang Buka 24 Jam Butuh Ambulans & Nakes

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 22:53 WIB
DPRD Kota Surabaya
Foto: Pemkot Surabaya
Jakarta -

DPRD Kota Surabaya mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya memberlakukan dibukanya layanan puskesmas 24 jam sebagai salah satu percepatan penanganan COVID-19 di Surabaya. Diketahui, langkah ini merupakan instruksi dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Untuk memastikan jalannya layanan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah melakukan tinjauan ke Puskesmas Tenggilis. Ia mengaku menyempatkan diri berkomunikasi dengan warga yang berada di Puskesmas Tenggilis.

"Ya saya rasa kemarin apa yang sudah disampaikan oleh wali kota, ini sangat kita mengapresiasi," kata Laila dalam keterangan tertulis, Selasa (13/7/2021).

Laila menjelaskan ada beberapa keluhan yang disampaikan oleh masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya terkait dengan kurangnya driver ambulans dan juga mobil ambulans di lapangan.

"Karena memang yang di lapangan terjadi itu, memang di masing-masing puskesmas, keluhan dari masyarakat memang kurangnya ambulans. Mungkin karena trouble-nya di ambulans karena juga (kurang) pengemudi," ungkapnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Laila mendorong Pemkot Surabaya segera menambahkan relawan pengemudi ambulans dan penambahan armada ambulans. Ia juga meminta Pemkot Surabaya menambah tenaga kesehatan untuk layanan di puskesmas.

"Jangan hanya pengemudinya, armadanya juga harus ditambah. Karena saya dengar ambulans yang ada di dinas sosial dan Dinkes itu sangat kurang. Karena ada yang rusak. Sehingga saya berharap pemerintah kota menggandeng CSR-CSR yang ada di Surabaya untuk menyediakan armada itu (ambulans) untuk ditambahi," terangnya.

Ia pun meminta Pemkot Surabaya memperhatikan ketersediaan oksigen di Surabaya. Sebab, menurutnya, ketersediaan oksigen saat ini sangat dibutuhkan masyarakat.

"Karena yang sekarang ini sakit, bukan satu rumah satu. Tapi satu keluarga. Nah ini kalau satu rumah lima orang butuh oksigen semua kan juga susah gitu loh. Saya mohon diperhatikan ketersediaan oksigen yang sangat urgen," tutur Laila.

Politisi Partai PKB ini juga menyampaikan kepentingan masyarakat terkait tes swab PCR yang hasilnya lama agar bisa diganti dengan swab antigen. Sebab, layanan kedaruratan TGC dan juga bantuan layanan pemakaman selama ini masih menunggu hasil PCR sebagai rujukan utama saat pandemi COVID-19.

"Sehingga ketika ada petugas dari TGC itu, setelah ditanya PCR tidak ada, tidak mendapatkan layanan pemakaman dan sebagainya sehingga harus menunggu PCR dulu," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tenggilis dr Dessy K Setia mengatakan layanan 24 jam di Puskesmas Tenggilis sudah berjalan sesuai instruksi Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

"Kalau 24 jam sesuai dengan arahannya kepala dinas, jadi semalam mulai jam 7 malam. Terus sampai seterusnya 24 jam. Jadi kita bagi petugas jadi tiga shift. Jadi yang jaga itu dokter, perawat, dan driver," jelas Dessy.

Ia pun menambahkan dibukanya puskesmas selama 24 jam bertujuan menangani COVID-19. Khususnya bagi yang menjalani isolasi mandiri agar saat muncul gejala bisa ditangani lebih cepat untuk dilakukan tindakan lanjutan.

"Jadi kalau ada yang utamanya yang jaga itu, 1. kita penanganan untuk pasien COVID-19 yang isolasi mandiri yang mereka kondisinya dalam arti menurun. Jadi kita cepat melakukan tindakan ke mereka. Kalau mereka harus dirujuk, berarti kita cepat membantu ngerujuk," tutur Dessy.

"Nah pada saat ini, rumah sakit penuh, sekarang itu pemkot membuka rumah sakit baru yaitu lapangan tembak. Jadi ke situlah nanti kita merujuk ke sana, untuk saat ini, itu yang terbuka," imbuhnya.

Sementara itu, bagi pasien tidak bergejala atau bergejala ringan, saat ini dilakukan isolasi mandiri di asrama haji dan dua hotel yang bekerja sama dengan Pemkot Surabaya.

Dessy mengaku dibukanya layanan puskesmas 24 jam sangat membantu masyarakat dalam keadaan cepat darurat. Kendati demikian, ia pun mengungkap saat ini puskesmas kekurangan tenaga kesehatan akibat banyak yang terpapar COVID-19 dan juga kekurangan driver untuk ambulans.

"Sebetulnya kalau dibuka (24 jam) itu bagus untuk penanganan darurat cepat. Tetapi kendalanya di jumlah nakesnya. Karena jumlah nakesnya kan jumlahnya tetap. Terus sebagian sekian persen itu sudah isolasi mandiri, karena terpapar, jadi jumlah nakesnya berkurang. Sedangkan kita harus buka 24 jam. Mohon penambahan untuk relawan nakes sama relawan driver. Karena driver jaga lainnya harus off, nah itu juga kita butuhkan driver," pungkasnya.

(mul/ega)