3 Bulan Eks Kadis LH Pekanbaru Jadi Tersangka, Publik Tanya Progres Kasus

Raja Adil Siregar - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 19:42 WIB
Tumpukan sampah di Jalan Soekarno-Hatta baru-baru ini (Raja Adil/detikcom)
Tumpukan sampah di Jalan Soekarno-Hatta baru-baru ini. (Raja Adil/detikcom)
Pekanbaru -

Polisi sudah menetapkan dua tersangka terkait tumpukan sampah yang ada di Pekanbaru. Namun setelah 3 bulan penetapan tersangka kasus yang menjerat eks Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH), Agus Pramono, belum ada kejelasan kelanjutan penanganan kasus ini.

Masyarakat Koalisi Sapu Bersih meminta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau segera menuntaskan kasus tersebut. Sebab, setelah penetapan tersangka, tidak ada perkembangan sudah sampai mana kasus ini ditangani.

"Kasus sampah ini dari awal telah menjadi perhatian masyarakat dan kasus pertama di Indonesia terkait dugaan tindak pidana pengelolaan sampah. Polda Riau harus beri kepastian terhadap jalannya proses hukum ini," tegas Direktur LBH Pekanbaru, Andi Wijaya, Senin (12/7/2021).

Andi menilai, sejak melakukan penyelidikan pada 15 Januari hingga menetapkan tersangka pada 30 April lalu, penyidik sudah memeriksa 13 saksi masyarakat, 17 saksi dari Dinas LHK Pekanbaru, wali kota, hingga Sekda Kota Pekanbaru. Termasuk pihak swasta hingga ahli lingkungan hidup dan ahli pidana.

Andi mengatakan kasus ini adalah langkah awal membuka dugaan kasus lain di Dinas Lingkungan Hidup. Termasuk adanya pungutan retribusi sampah yang saat ini masih dilakukan secara manual dan belum teratasi dengan baik.

"Untuk retribusi masih dominan manual. Sehingga ada potensi penggelapan dan di lapangan warga mengeluh karena sampah masih ada yang tak terangkut padahal sudah bayar," Kata Andi.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Riau itu kemudian meminta polisi dapat menuntaskan kasus tersebut. Terutama terkait perkembangan kasus yang belum ada terlihat di masyarakat.

"Sampai saat ini masyarakat menunggu. Kita tidak tahu apakah kasus sudah P-19, P-21, atau SP3. Kami semua menunggu," kata Andi.

Sementara itu, Staf Advokasi WALHI Riau, Ahlul Fadli mengatakan selain perkara pidana pengelolaan sampah di Polda Riau, DPRD Pekanbaru juga diminta melakukan evaluasi kinerja Pemko Pekanbaru hingga merevisi Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan sampah dan regulasi lelang angkutan sampah.

"Regulasi dan kinerja harus dievaluasi oleh DPRD. Termasuk soal pembatasan plastik dalam pengelolaan sampah yang spesifik, karena sampah plastik jika tak diatur akan menimbulkan tumpukan secara periodik," katanya.

Ahlul berharap kasus pengelolaan sampah ini jadi langkah awal penegakan hukum agar kejadian yang sama tidak terulang di masa yang akan datang. Termasuk sebagai evaluasi Pemko Pekanbaaru agar kasus tumpukan sampah tak terulang.

"Kasus ini sebagai pengingat bagi masyarakat dan terus memantau kinerja pemerintah dalam pengelolaan sampah," katanya.

Direktur Reskrimum Polda Riau Kombes Teddy Ristiawan saat dikonfirmasi tidak merespons pesan maupun panggilan telepon detikcom.

Duduk Perkara Kasus

Diketahui, Agus Pramono ditetapkan sebagai tersangka pada 30 April lalu. Agus Pramono dinilai lalai mengatasi persoalan sampah hingga terjadi tumpukan.

Penetapan tersangka dilakukan setelah polisi melakukan gelar perkara. Polisi juga menetapkan Adil Putra, anak buah Agus, sebagai tersangka.

Penyidikan kasus sendiri telah dimulai sejak 15 Januari 2021. Persoalan sampah di Pekanbaru tersebut menjadi perhatian Menteri LHK, Siti Nurbaya.

Keduanya dinilai lalai dan sengaja melakukan pembiaran sampah sehingga dinilai sebagai orang yang bertanggung jawab.

(ras/jbr)