Gedung DPR Disimulasikan Jadi RS Darurat, Bisa Nggak?

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 15:32 WIB
Jakarta -

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mensimulasikan persiapan gedung DPR jika dijadikan RS darurat COVID-19 sebagaimana usulan Fraksi Partai Demokrat (PD). Sejumlah kendala ditemukan dalam simulasi tersebut, salah satunya tempat tidur pasien tidak dapat dimasukkan ke lift.

Kegiatan simulasi tersebut digelar Senin (12/7/2021) siang. Dasco didampingi Sekjen DPR Indra Iskandar, sejumlah anggota DPR dan pengelola gedung.

Dalam simulasinya, tempat tidur pasien rumah sakit coba dimasukkan ke lift. Ternyata lebar tempat tidur melebihi lebar lift.

Selain itu, Dasco meninjau ruang rapat paripurna DPR, yang menurutnya, diusulkan jadi bangsal. Ternyata lantai ruang paripurna tidak bisa digunakan untuk menaruh tempat tidur pasien karena permukaannya menurun.

"Bahwa ke ruang paripurna lift itu kan hanya satu. Nah, sementara memasukkan tempat tidurnya saja kan nggak cukup. Lalu kemudian ruang rapat paripurnanya kan tidak rata, yang bangsal-bangsal, itu kan diusulkan untuk bangsal tadinya," kata Dasco di halaman gedung Nusantara I seusai simulasi.

"Kondisinya kan menurun, konstruksinya begitu, sehingga kita kesulitan taruh tempat tidur karena tempatnya kan tidak rata. Itu yang ruang paripurna untuk bangsal," imbuhnya.

Dasco juga meninjau ruang anggota DPR di gedung Nusantara I. Pimpinan DPR dari Fraksi Gerindra itu menjelaskan jumlah lantai gedung Nusantara I ada 23. Setiap lantai memiliki 30 ruangan yang bisa diisi 3 orang.

"Yang kedua tadi kan saya bawa ke ruangan anggota, ada 23 lantai, di setiap lantai ada 30 ruangan. 30 ruangan itu bisa kapasitas satu ruangannya itu per lantai 30, itu bisa 60-90, dengan posisi kamar mandi cuma 6," terang Dasco.

Dasco menyebut salah satu kendala di gedung Nusantara I adalah liftnya. Dia memprediksi untuk membongkar seluruh ruangan anggota DPR menjadi kamar perawatan membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Kemudian tadi sudah sama-sama kan, liftnya sudah tua, tempat tidur nggak masuk. Kemudian sampah disinfeksinya kita mesti perhitungan bagaimana, supaya tidak membuat masalah baru. Lalu kemudian kita harus bongkar-bongkar total itu membutuhkan waktu yang cukup lama, menurut kita," sebut Waketum Gerindra itu.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya.