Bacaan Niat Puasa Qadha dalam Arab, Latin, dan Tuntunan Melakukannya

Novia Aisyah - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 09:29 WIB
Muslims prayer at home
Foto: Getty Images/iStockphoto/agrobacter
Jakarta -

Niat puasa qadha memiliki bunyi atau lafal yang mirip dengan niat puasa Ramadhan. Ibadah ini sifatnya wajib dilakukan oleh umat Muslim yang secara syar'i tak dapat menunaikan ibadah puasa di bulan suci.

Beberapa alasan syar'i tersebut misalnya adalah haid atau sedang melakukan perjalanan jauh. Puasa qadha juga dapat dilakukan di luar bulan Ramadhan, dimulai pada bulan Syawal hingga menjelang bulan Ramadhan berikutnya.

Terkait niat, Imam Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa hal ini merupakan rukun dari puasa. Sementara Imam Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwa niat adalah bagian dari syarat.

Menurut keempat imam tersebut, niat puasa boleh dibaca sejak terbenam matahari. Di samping itu, Imam Hanafi, Syafi'i dan Hanbali juga mengatakan bahwa niat bisa diucapkan hingga fajar hari berikutnya apabila yang dilakukan adalah puasa fardhu.

Niat puasa qadha

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."

Tuntunan puasa qadha

Ada dua pendapat tentang waktu yang pas untuk dilakukannya puasa qadha. Melansir dari buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah karya Nur Solikhin, pendapat pertama mengatakan bahwa jika puasa yang ditinggalkan berurutan, maka cara menggantinya pun dengan berurutan.

Pendapat di atas memiliki alasan bahwa qadha merupakan mengganti puasa yang ditinggalkan. Sehingga, cara pelaksanaannya pun wajib sepadan.

Pendapat kedua menyatakan bahwa puasa qadha tidak harus dilaksanakan berurutan. Opini tersebut menguatkan pernyataan bahwa tidak ada dalil yang menegaskan bahwa puasa qadha wajib dilakukan sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.

Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan dalam sebuah hadis bahwa puasa qadha boleh dilakukan dengan terpisah/tidak berurutan. Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:

"Qadha puasa Ramadhan itu jika ia berkehendak maka boleh melakukannya secara terpisah. Dan, jika ia berkehendak maka ia boleh juga melakukan secara berurutan." (HR. Daruquthni)

Dari kedua pendapat yang telah disebutkan di atas, dapat dipilih salah satunya. Jika lupa dengan jumlah puasa yang harus diganti, maka lebih baik menentukan dengan lebih maksimum.

Karena ibadah ini sifatnya sama-sama wajib seperti puasa Ramadhan, maka syarat yang membatalkannya pun sama.

Demikian bacaan niat puasa qadha dan tuntunan pelaksanaannya. Semoga bermanfaat, detikers!

(lus/lus)