Niat Puasa Qadha Ramadhan dan Tata Cara Pelaksanaannya

Kristina - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 11:11 WIB
one day one hadits niat puasa
Ilustrasi Niat Puasa Qadha (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Puasa Qadha atau puasa pengganti wajib dilakukan umat Islam yang karena suatu hal sesuai syar'i tidak bisa melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Misalnya karena haid, -bagi perempuan-, atau sebab melakukan perjalanan jauh bagi muslim laki-laki yang sudah akil baligh.

Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim di bulan Ramadhan. Sehingga bagi yang meninggalkan puasa di bulan ini maka diwajibkan untuk menggantinya atau melakukan puasa qadha

Qadha puasa adalah berpuasa di hari lain di luar bulan Ramadhan sebagai pengganti hari yang telah ditinggalkan pada bulan itu. Perintah tersebut tertuang dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 184 sebagai berikut:

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang wajib melakukan qadha puasa. Maharati Marfuah Lc dalam bukunya Qadha dan Fidyah Puasa mengatakan, secara umum penyebab qadha dibedakan menjadi dua, yaitu udzur syar'i dan batal puasa. Udzur syar'i meliputi wanita haidh dan nifas, orang sakit, musafir, dan darurat. Sementara itu, batal puasa meliputi sengaja membatalkan puasa dan keliru membatalkan puasa.

Menurut Imam Syafi'i dan Maliki sebagaimana dikutip dari buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab oleh Thariq Muhammad Suwaidan, puasa merupakan menjaga dari segala yang membatalkannya sejak fajar shadiq hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu dan disertai niat.

Kedua imam tersebut berpendapat bahwa niat merupakan rukun puasa. Sementara imam Hanafi dan Hanbali mengatakan niat merupakan syarat puasa. Menurut keempatnya, niat boleh dilakukan sejak terbenamnya matahari. Sementara imam Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali menambahkan boleh dilakukan hingga fajar hari berikutnya jika puasa fardhu.

Niat puasa qadha Ramadhan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."

Tata Cara Pelaksanaan Puasa Qadha

Dikutip dari buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah oleh Nur Solikhin, terdapat dua pendapat terkait cara pelaksanaan puasa qadha, sebagai berikut:

Pertama, jika hari puasa yang ditinggalkan berurutan maka untuk menggantinya dengan berurutan pula. Pendapat ini mengatakan bahwa qadha merupakan pengganti puasa yang telah ditinggalkan sehingga wajib dilakukan secara sepadan.

Kedua, pelaksanaan puasa qadha tidak harus dilakukan secara berurutan. Pendapat ini menguatkan pernyataan tentang tidak adanya dalil yang menegaskan bahwa qadha puasa wajib dilaksanakan sebanyak jumlah hari yang telah ditinggalkan.

Dalam sebuah hadits nabi SAW menjelaskan bahwa qadha boleh dilakukan secara terpisah (tidak berurutan). Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda:

"Qadha puasa Ramadhan itu jika ia berkehendak maka boleh melakukannya secara terpisah. Dan, jika ia berkehendak maka ia boleh juga melakukan secara berurutan." (HR. Daruquthni)

Dari kedua pendapat di atas, seseorang boleh memilih salah satu dari keduanya. Baik secara berurutan maupun tidak berurutan. Adapun jika jumlah puasa yang harus dibayar tidak diketahui (karena sudah lama), maka lebih baik menentukan jumlah dengan lebih maksimum. Sebagai contoh, ada keraguan antara hutang 5 atau 6 hari, maka yang harus dipilih adalah yang 6 hari.

Waktu untuk menjalankan puasa qadha antara bulan Syawal hingga datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Beberapa pendapat mengatakan, puasa qadha lebih baik dilakukan sesegera mungkin. Namun, menjalankannya di waktu-waktu yang dirasa bisa saja juga diperbolehkan.

Puasa qadha hukumnya wajib seperti puasa Ramadhan. Adapun untuk syarat dan hal-hal yang membatalkannya sama seperti puasa Ramadhan.

(erd/erd)