Survei P2G: Hanya 23,9% Ortu yang Tak Setuju Sekolah Tatap Muka Dimulai

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 11 Jul 2021 15:01 WIB
Siswa Siswi sekolah dasar kelas 5 menjalani ujian Penilaian Akhir Tahun secara tatap muka dengan mengunakan gawai di Sekolah Dasar Negeri 07 Pagi Malaka Jaya, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021).
Ilustrasi (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengungkap 43,9% orang tua setuju dengan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli saat ini di tengah lonjakan virus Corona (COVID-19). P2G menyebut tingginya animo para orang tua ini karena merasa anaknya sudah jenuh belajar di rumah.

Survei ini dilakukan selama 3 hari dari 5-8 Juli dengan teknik sample random sampling. Ada 8.287 orang tua siswa di 34 provinsi. Orang tua diwawancarai menggunakan teknik kuesioner Google Form yang disebarkan di aplikasi perpesanan.

"Mengenai persetujuan orang tua terhadap dimulainya PTM, tahun ajaran baru Juli 2021, yang setuju dimulainya PTM bulan Juli itu 43,9% hampir setengahnya, 33,2% ragu-ragu, lalu 23,9% tidak setuju," kata Kabid Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri dalam konferensi virtual, Minggu (11/7/2021).

Iman melihat persentase survei itu menunjukkan mayoritas orang tua setuju dimulainya PTM pada Juli. Padahal, kata Iman, angka ini sangat kontras saat kasus COVID-19 yang menjangkiti anak-anak justru melonjak tajam pada akhir-akhir ini.

"Catatan dari kami memang mayoritas orang tua secara tidak langsung setuju terhadap mulainya PTM pada bulai Juli 2021, padahal kita tahu sendiri COVID-19 semakin meningkat tadi sudah disebutkan bahwa banyak pasien COVID anak-anak yang terinfeksi COVID ini di Indonesia termasuk yang paling banyak," ungkapnya.

Iman menjelaskan, para orang tua yang setuju ini dilatarbelakangi karena sang anak telah jenuh dan bosan berada di rumah. Kemudian, para orang tua juga mengeluh karena anaknya lebih sering main game di rumah dibanding belajar.

"Yang setuju ini kan berjumlah 43,9%, apa alasan mereka 41% hampir setengahnya karena anak bosan, 24,7% itu karena anaknya main game terus di rumah, 21,2% karena sinyal internet yang susah di daerahnya di lokasi tersebut, lalu 9,3% itu karena orang tua tidak memiliki kompetensi pengajaran di rumah gitu karena tidak semuanya ada yang menjawab seperti itu, dan yang lainnya menjawab lain," tuturnya.

Selanjutnya, persentase ortu yang ragu-ragu.

Simak video 'PTM Terbatas Tetap Dilaksanakan, Bagaimana Mekanismenya?':

[Gambas:Video 20detik]