Faktor Ini yang Bikin Demokrat Sebut RI Mengarah ke 'Failed Nation'

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 08:51 WIB
Kepala Bakomstra Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra.
Herzaky Mahendra Putra (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Waketum Partai Demokrat (PD) Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyebut Indonesia jangan sampai disebut 'failed nation'. Partai Demokrat mengungkap sejumlah faktor yang membuat Indonesia dapat mengarah ke 'failed nation'.

"Sudut pandang kami dalam kasus COVID ini adalah soal penyelamatan nyawa rakyat. Jika sebuah negara tak mampu menyelamatkan nyawa rakyatnya, bisa dianggap sebagai bangsa yang gagal. Karena kebutuhan akan hak hidup adalah hak paling dasar bagi warga negara," Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra kepada wartawan, Kamis (8/7/2021).

Nyawa semakin banyak yang bergelimpangan akibat penanganan pandemi yang tidak tepat dan cepat, hingga rendahnya kemanjuran dan lambatnya proses vaksinasi, menurut Partai Demokrat, menjadi faktor Indonesia mengarah ke 'failed nation'.

"Jika nyawa terus bergelimpangan dan meningkat drastis karena akses terbatas terhadap oksigen, akses terbatas terhadap obat-obatan yang semakin membubung tinggi harganya, dan akses akan perawatan di rumah sakit semakin terbatas, serta rendahnya tingkat kemanjuran vaksin dengan alokasi tidak merata dan penyebarannya tidak berjalan dengan cepat, sehingga setiap warga negara semakin rentan terhadap ancaman COVID-19 dan meningkatnya potensi kehilangan nyawa, membuat Indonesia bisa mengarah ke failed nation," ujarnya.

Faktor-faktor yang diungkap Partai Demokrat soal 'failed nation', menurut Herzaky, merupakan peringatan bagi pemerintah. Pemerintah, kata Herzaky, harus berhati-hati dalam penanganan pandemi.

"Jadi, apa yang kami sampaikan, adalah bentuk peringatan, alarm dini bagi kita semua, terutama bagi pemerintah yang memiliki tanggung jawab mengelola negeri ini, untuk benar-benar memiliki sense of urgency dalam penanganan COVID-19 ini. Ini bukan business as usual. Tidak bisa melakukan sesuatu dan menganggapnya hal biasa-biasa saja, seperti sebelum-sebelumnya," ucap Herzaky.

"Mesti sangat hati-hati dalam menanganinya, mengambil keputusan harus benar-benar tepat, dan secara cepat. Salah melangkah, nyawa rakyat kita yang jadi taruhannya," sambungnya.

Herzaky mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menangani pandemi Corona. Padahal, kata Herzaky, sejumlah pihak sudah mewanti-wanti pemerintah sejak jauh hari.

"Kasus kelangkaan oksigen kemarin sebagai contoh kegagalan pemerintah dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi bahaya pandemi ini, padahal sudah diingatkan para pakar sejak Mei lalu. Apakah memang ini menunjukkan lemahnya kemampuan mitigasi bencana yang dimiliki pemerintah saat ini, ataukah kegagalan pemerintah untuk fokus menyelesaikan isu utama, yaitu krisis kesehatan?" imbuhnya.

Simak Video: Blak-blakan Suryo Pratomo, 7 Kunci Damai dengan Corona

[Gambas:Video 20detik]




(rfs/dnu)