Jubir Jokowi Respons AHY-Ibas: Presiden Lindungi Bangsa dengan PPKM Darurat

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 11:19 WIB

Selain itu, kata Fadjroel, pemerintah sudah menyiapkan tambahan anggaran Rp 6,1 triliun untuk program bantuan sosial pada bulan Juli-Agustus 2021 dengan target 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kemudian, juga mengalokasikan anggaran untuk program diskon listrik bagi warga.

"Sedangkan alokasi Semester I Rp 11,9 Triliun, total anggaran Rp 18 Triliun. Kemudian percepatan penyaluran melalui redesain kebijakan BLT Desa Rp 28,8 triliun untuk 8 juta KPM. Sedangkan percepatan penyaluran kuartal ketiga awal Juli 2021 alokasi senilai Rp 28,31 triliun untuk 10 juta KPM, juga percepatan penyaluran Kartu Sembako pada awal Juli 2021 dengan alokasi Rp 40,19 Triliun untuk 18,8 juta KPM," ungkap dia.

"Pemerintah juga sudah menyiapkan anggaran Rp 7,58 triliun untuk menanggung biaya program diskon listrik bagi sekitar 32,6 juta pelanggan, yang dalam kondisi PPKM darurat ini diperpanjang sampai September 2021," lanjut Fadjroel.

Belum lagi bantuan internet untuk pendidikan. Fadjroel mengatakan bantuan internet untuk pendidikan masih akan berlanjut pada kuartal III dengan total penerima 27,67 juta orang.

"Bangsa Indonesia telah membuktikan kesalingpedulian dan kebersamaan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Oleh karenanya, Presiden Joko Widodo mempercayai bahwa bangsa Indonesia mampu menerapkan protokol kesehatan baik selama PPKM darurat dan setelahnya. Presiden berterima kasih atas gotong royong semua pihak, khususnya tenaga kesehatan, relawan, TNI/Polri, pemerintah daerah, dan lainnya. Mari kita saling menjaga, sayangi diri kita, sayangi orang lain, serta bergotong royong menghadapi pandemi COVID-19," tuturnya.

Pernyataan Ibas dan AHY

Awalnya Ibas yang bicara keras soal kemampuan pemerintah menghadapi pandemi. Dia tidak ingin Indonesia menjadi bangsa gagal dalam penanganan pandemi Corona.

"Begini ya, COVID-19 makin 'mengganas'. Keluarga kita, sahabat kita, dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar, bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini?" kata Ibas dalam keterangan tertulis yang dibagikan Kepala Bakomstra PD Herzaky Mahendra Putra, Rabu (7/7).

"Jangan sampai negara kita disebut sebagai failed nation atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," imbuh dia.

Lalu AHY menyusul. Dia mengawali retorikanya dengan bicara status ekonomi Indonesia, Bank Dunia resmi mengumumkan Indonesia masuk kategori negara lower-middle income atau negara dengan penghasilan menengah ke bawah serta asesmen Bank Dunia per 1 Juli 2021 dan soal pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita Indonesia tahun 2020 turun menjadi USD 3.870.

Tahun lalu, GNI per kapita Indonesia berada di level USD 4.050. Capaian tersebut membuat Indonesia naik kelas menjadi upper-middle income country atau negara berpenghasilan menengah ke atas. AHY menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak ideal. Namun, menurutnya, masalah intinya bukan pada status kelas penghasilan menengah ke bawah.

"Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas. Masalah gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari COVID?" kata AHY.


(mae/imk)