Pasar Pramuka Jangan Dijadikan Barometer Ketersediaan Oksigen

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 07 Jul 2021 12:52 WIB
Jakarta -

Presiden Direktur PT Aneka Gas Industri Rachmat Harsono mengingatkan kalangan media dan masyarakat untuk tidak merujuk ketersediaan oksigen cuma dari Pasar Pramuka. Sebab, di wilayah Jabodetabek, ada sekitar 60 distributor oksigen, juga ada depot-depot isi ulang oksigen di banyak tempat.

"Saya bilang, Pasar Pramuka jangan dijadikan barometer nasional. Itu kan kategorinya pedagang kecil. Kami punya 60 distributor oksigen di seluruh wilayah Jabodetabek," kata Rachmat dalam program Blak-blakan detikcom, Rabu (7/7/2021).

Selama ini sebagian masyarakat di Jakarta sepertinya selalu merujuk Pasar Pramuka sebagai tujuan utama untuk membeli oksigen dan berbagai jenis obat. Ketika persediaan terbatas, lalu ada yang tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan dan mempostingnya di media sosial, postingan itu bila diimbuhi dengan kata 'langka' akhirnya membuat anggota masyarakat yang lain panik.

Padahal, kata Rachmat, produksi oksigen di Indonesia dalam setahun terakhir setiap hari mencapai 1.700 ton. Produksi sebanyak itu didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan industri 70 persen dan sisanya untuk medis. Seiring meningkatnya jumlah pasien COVID-19 dalam tempo cepat, pengelola rumah sakit pun panik dan meminta pasokan tambahan dalam jumlah besar secara mendadak.

Belum lagi ada anggota masyarakat yang latah, lalu ikut-ikutan membeli oksigen hanya untuk persediaan pribadi dan keluarga. Sementara itu, keluarga lain yang benar-benar membutuhkan justru tidak kebagian.

Tingginya pesanan oksigen dalam tabung, kata Rachmat, juga tidak diikuti dengan pengembalian tabung dalam jumlah yang sama karena biasanya kalau di rumah sakit masih dipakai untuk para pasien, dan pasien baru terus berdatangan. Akibatnya, karena jumlah tabung terbatas, pasokan distribusi pun sedikit terlambat.

"Kalau dari sisi produksi sih cukup karena kebutuhan harian untuk medis itu biasanya 400 ton per hari. Kalau yang industri dialihkan untuk medis, tentu akan mencukupi sehingga tak perlu impor dulu, kecuali lonjakan pasien terus naik," kata Rachmat Harsono.

Dia menepis dugaan terjadi penimbunan. Sebab, produk oksigen tabung butuh tempat, tangki khusus, serta ruang isolasi yang benar-benar aman. "Kalau ditimbun, mampu berapa banyak, nyimpen di mana?" ujarnya.

(jat/jat)