e-Life

Di Kondisi Ini, Doping Vitamin Tidak Wajib untuk Tingkatkan Imun

dtv - detikNews
Rabu, 07 Jul 2021 06:24 WIB
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat kepedulian terhadap kesehatan meningkat. Salah satunya persoalan mengonsumsi vitamin dan suplemen tambahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Akan tetapi, vitamin dan suplemen tambahan ini tidak bersifat wajib karena seharusnya kebutuhan akan nutrisi penting bagi tubuh sudah didapatkan dari makanan sehari-hari yang bergizi.

"Dalam sehari-hari kita nih perlu gizi seimbang. Pertama, karbohidrat contohnya nasi, gandum, jagung, roti sebanyak 3-4 porsi per hari. Kemudian, sayur dan buah-buahan, ini diperlukan sampai 5 porsi sehari. Lauk pauk seperti ayam, ikan, daging, tahu, tempe diperlukan 2-4 porsi sehari. Terakhir, yang jumlah tidak boleh berlebihan, yaitu gula, garam, dan minyak. Gula hanya 4 sendok makan, garam 1 sendok teh, dan minyak 5 sendok makan per hari," jelas Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp.GK di acara e-Life detikcom.

Adapun mengenai kebutuhan akan vitamin dan asupan penting lainnya bagi tubuh, dr. Raissa menekankan pada pemenuhan vitamin C, D, dan zinc di masa pandemi. Diperbolehkan juga mengonsumsi multivitamin, contohnya vitamin A, B, E, selenium, omega 3, dan probiotik.

Situasi pandemi yang semakin mengkhawatirkan menyebabkan sebagian orang panik dan mengonsumsi vitamin secara berlebihan. Salah satunya soal salah kaprah mengonsumsi 1.000 mg vitamin C sebanyak tiga kali dalam sehari, padahal kebutuhan vitamin C untuk tubuh hanya 75-90 mg.

"Nggak berguna juga kalau minumnya dengan dosis yang over seperti itu," komentar dr. Raissa mengenai kepanikan masyarakat dalam konsumsi vitamin C yang berlebihan hingga menimbunnya.

Apabila seseorang mengalami kelebihan vitamin, tubuh telah memiliki mekanisme untuk membuang sisa vitamin yang tidak diperlukan. "Selama kita minum dosisnya bukan yang ekstra, badan kita punya mekanisme untuk menetralisir vitamin itu. Misalnya minum vitamin C dosis 1.000 mg, padahal kan sehari-hari hanya dibutuhkan sekitar 75-90 mg. Sisanya akan diapain? Dibuang lewat urine, gitu," kata dr. Raissa.

(gah/gah)