Doorsmeer hingga Mandi, Ini Istilah-istilah Khas Medan yang Ultah ke-431

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 07:40 WIB
Ilustrasi Medan -- Tugu titik nol Kota Medan (Haris Fadhil/detikcom)
Foto: Ilustrasi Medan (Haris Fadhil/detikcom)
Medan -

Medan hari ini merayakan hari jadinya yang ke-431 tahun. Selain kulinernya, Medan juga dikenal dengan banyaknya istilah khas dalam percakapan sehari-hari warganya, seperti doorsmeer untuk tempat cuci motor hingga mandi untuk menyatakan teh manis dingin alias es teh manis.

Dalam rangka merayakan HUT Medan ke-431, yuk pahami makna sejumlah istilah khas Medan biar gak apa kali.

1. Kereta untuk Motor

Masyarakat di Medan atau Sumatera Utara (Sumut) pada umumnya menggunakan 'kereta' untuk menyebut sepeda motor dan motor untuk menyebut mobil. Mengapa?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kereta sebenarnya memiliki tiga arti. Pertama, kendaraan yang beroda dua atau empat (biasanya ditarik oleh kuda). Kedua, kata kereta diartikan sebagai kereta api, dan ketiga adalah sepeda motor.

Namun, penyebutan kereta di luar Medan atau Sumut pada umumnya bisa menimbulkan multitafsir. Jika ke wilayah Jawa, kereta lebih sering diartikan sebagai kereta api, bukan sepeda motor.

Ahli bahasa yang juga akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Amrin Saragih, menjelaskan alasan mengapa 'kereta' digunakan warga Medan untuk menyebut sepeda motor.

"Dulu segala kendaraan yang bergerak tidak dipandu oleh manusia disebut kereta," kata Amrin, Sabtu (6/2/2021).

Amrin mengatakan jenis kereta yang pertama adalah kereta yang ditarik lembu. Seiring dengan berkembangnya zaman, muncullah kereta dengan menggunakan mesin.

"Contohnya kereta lembu, kemudian ada kereta berjentera, jentera itu mesin," ucapnya.

amrin menyebut kereta bermesin kemudian tak lagi disebut sebagai kereta berjentera, melainkan hanya 'kereta'. Amrin mengatakan tidak mengetahui pasti alasan kata berjentera itu dihilangkan dari percakapan warga.

"Tapi bedanya kereta ini bertahan pada sepeda motor itu tanpa dibarengi kata-kata yang lain. Sama sebenarnya dengan di Semenanjung, Malaysia. Di Semenanjung itu, kata kereta untuk mobil," tutur Amrin.

2. Pajak untuk Pasar

Kata 'pajak' digunakan oleh mayoritas masyarakat Medan untuk menyebut pasar tradisional. Pajak sendiri memiliki tiga arti dalam KBBI.

Pertama, pajak berarti pungutan wajib, biasanya berupa uang yang harus dibayar oleh penduduk sebagai sumbangan wajib kepada negara atau pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, harga beli barang, dan sebagainya.

Kedua, pajak berarti hak untuk mengusahakan sesuatu dengan membayar sewa kepada negara. Ketiga, pajak berarti kedai; lepau; los tempat berjualan (di Madura).

Suasana Pasar Pusat Pasar Medan jelang Lebaran, Rabu (5/5/2021))Suasana Pasar Pusat Pasar Medan jelang Lebaran, Rabu (5/5/2021)) Foto: Datuk Haris Molana-detikcom

Pemko Medan sendiri tetap menggunakan kata pasar untuk menyebut tempat berbelanja tradisional di kota ini. Meski demikian, pasar malah diartikan sebagai jalan dan pasar untuk tempat berbelanja adalah pajak dalam percakapan sehari-hari. Kok gitu?

Akademisi Fakultas Ilmu Budaya USU, Budi Agustono, memberi penjelasan soal awal mula 'pajak' digunakan untuk menunjukkan pasar. Dia mengatakan hal itu bermula sejak 1950-an.

"Sebutan pajak untuk pengganti pasar sudah lama dikenal masyarakat Sumatera Utara. Tahun 1950-an masyarakat telah menyebut pajak untuk pasar. Disebut pajak karena berhubungan dengan transaksi jual-beli. Sedangkan sebutan pasar dipertukarkan dengan jalan. Dua diksi ini merupakan khas masyarakat Sumatera Utara," kata Budi.

Budi mengatakan masyarakat di Medan ataupun Sumut pada umumnya masih sering memakai kata pajak ketimbang pasar dalam percakapan sehari-hari. Dia mengatakan pajak untuk menyebut pasar juga masih digunakan generasi milenial.

"Disebut pajak karena penjual dan pembeli mengeluarkan alat transaksinya uang, seperti misalnya masyarakat membayar pajak ke pemerintah," ucapnya.

Simak juga 'Saat Walkot Medan Bobby Dikalungi Ulos di Munas JBMI':

[Gambas:Video 20detik]