Membedah Penyebab Arogansi Pengemudi Pajero Penganiaya Sopir Truk

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 09:35 WIB
Pengemudi Pajero pelaku penganiayaan dan perusakan sopir truk di Jakarta Utara ditangkap polisi. Ia mengaku tersulut emosi saat melakukan aksinya tersebut.
Penampakan Pengemudi Pajero yang Aniaya Sopir Truk di Jakut (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Sikap arogan pengendara yang merugikan pengendara lain kerap terjadi di jalan. Seperti terbaru ini, sikap yang ditunjukkan pengemudi pajero yang merusak dan menganiaya sopir truk di Jakarta Utara karena merasa kesal dengan klakson truk. Kenapa sikap arogan itu kerap terjadi?

"Jawabannya bisa banyak, tapi bisa jadi ini bentuk bagaimana ada orang yang mengklaim ingin menciptakan keadilan tapi merusak tatanan, sama ingin menegakkan hukum tapi justru melanggar hukum," kata psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam keterangan tertulis, Selasa (29/6/2021).

Reza mengatakan pemicu kerap terjadinya sikap arogan di jalan karena merasa hukum tidak adil. Alhasil, mereka mengambil inisiatif untuk menegakkan keadilan dengan caranya sendiri.

"Peristiwa atau aksi semacam ini salah satu penyulutnya karena merasakan hukum tidak adil, karena hukum tidak adil maka kemudian masyarakat mengambil inisiatif dengan menegakkan hukum dalam tanda petik ala mereka sendiri," ujarnya.

Reza Indragiri AmrielReza Indragiri Amriel (Ari Saputra/detikcom)

Di sisi lain, Reza menilai memang perilaku pengemudi Pajero yang menyerang sopir truk tidak bisa dibenarkan. Namun dia menyarankan agar aparat penegak hukum menarik peristiwa itu ke titik hulu.

"Okelah perilaku merusak truk itu adalah perilaku yang tidak bisa dibenarkan, tapi saya juga berfikir bahwa tak ada angin tak ada hujan bahwa si pelaku melakukan serangan. Alangkah baiknya apabila penegak hukum menarik kasus ini ke titik hulu, apa yang memunculkan pelaku melakukan tindakan ekstrem, apa ada perilaku pendahulu dari sopir truk yang melakukan tindakan ekstrem. Nah itu harus diinvestigasi," ujarnya.

Lebih lanjut, Reza mengatakan sikap arogan dari pengendara yang kerap terjadi di jalan harus disikapi secara serius. Dengan cara adanya fasilitas jalan yang memadai untuk menegakkan hukum di jalan.

"Kalau kita ingin menyikapi kasus ini secara serius tentu saja kita tidak bisa abai menyikapi kasus serupa dengan bobot yang lebih kecil. Kehadiran penegak hukum diperlukan tidak harus wujud personelnya atau petugasnya yang hadir di lokasi," ucapnya.

"Tapi keberadaan CCTV memastikan rambu lalu lintas bekerja sempurna, marka jalan juga warnanya bisa terlihat dengan baik, kemudian memastikan setiap pengemudi punya SIM yang tes psikologi yang baik, hal-hal itu yang diharapkan bisa menekan terjadinya peristiwa serupa," lanjut Reza.

(eva/imk)