Tanjung Perak Lumpuh, Pengusaha Rugi Rp 172,9 M/Hari
Senin, 20 Mar 2006 22:08 WIB
Surabaya - Aksi mogok yang dilakukan angkutan khusus pelabuhan, berakibat lumpuhnya aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.Pantauan di lapangan, tiga terminal bongkar muat seperti Terminal Mirah, Jamrud dan Berlian, lengang tak ada aktivitas yang menonjol. Begitupula, kapal-kapal yang sudah telanjur sandar ke pelabuhan terpaksa tidak membongkar muatannya.Bahkan, ratusan kapal yang tiba dari berbagai negara dan kepulauan di Indonesia memilih sandar dengan lego jangkar di Selat Madura untuk menghindari pembekakkan biaya karena tidak bongkar.Ketua DPD Organda Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Ali Hasyim kepada wartawan mengatakan, selama Surat Keputusan Menteri Keuangan No 527/KMK/03/2003 tidakdicabut maka Organda tetap mogok."Seluruh anggota tetap mogok selama surat keputusan tidak dicabut," tegasnya ketika dihubungi wartawan, Senin (20/3/2006).Aksi mogok ini menyebabkan kerugian yang ditanggung pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur danGabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi) Jatim sebesar Rp 172,9 miliar per harinya.Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Isdarmawan Asrikan mengatakan, dalam satu hari tercatat kontainer yang masuk ke Terminal Petikemas Surabaya sebanyak 2.750 kontainer.Angka itu terdiri dari 1.500 untuk kontainer ekspor sedangkan impor sebanyak 1.250 kontainer. Jika dikalkulasi dengan uang maka kerugian sebesar Rp172,9miliar."Jika aksi mogok terus berjalan, maka bisa dipastikan kerugian tidak bisa dihitung lagi jumlahnya," keluhnya. Yang mengkhawatirkan dirinya, adalah dampak dari aksi mogok ini. "Sejak isu mogok mencuat sejumlah perusahaan di luar negeri terus menanyakan. Bisa-bisa kepercayaan internasional kepada Indonesia luntur," ungkapnya.
(atq/)











































