Soroti Vonis Pinangki Disunat, Eks Ketua KY Jelaskan Cara Investigasi Hakim

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 27 Jun 2021 18:39 WIB
Jakarta -

Ketua Komisi Yudisial (KY) periode 2013-3015 Suparman Marzuki menyoroti KY mengidentifikasi rekam jejak hakim penyunat vonis Pinangki Sirna Malasari. Suparman menjelaskan, salah satu cara menginvestigasi hakim adalah dengan melihat rekam jejak putusannya.

"Ini identifikasi track record hakimnya, melalui apa? Satu, indikasi putusan-putusan mereka terdahulu. Ambil 10 putusan mereka yang terhitung kontroversial, lihat di catatan," kata Suparman dalam siaran langsung di kanal YouTube Sahabat ICW, Minggu (27/6/2021).

Suparman menerangkan KY juga bisa menelusuri rekam jejak personal hakim tersebut. Setelah data itu terkumpul, KY sudah bisa memulai investigasi.

"Yang kedua track record personalnya, karena semua ada catatannya. Lalu yang ketiga lakukan investigasi terhadap hakim-hakim bersangkutan," tuturnya.

Untuk proses investigasi, kata Suparman, KY sebetulnya sudah memiliki sistem yang mumpuni. Bahkan, KY sudah bisa melacak moralitas hakim itu bekerja sama dengan PPATK.

"Bagaimana caranya? Komisi Yudisial itu sudah punya sistemnya, sudah punya metode kerjanya, sudah baku itu bagaimana cara mengidentifikasi hakim. Untuk melihat membaca track record itu, kita bagi waktu itu misalnya moralitas pribadinya. Kita bisa lacak, ya kita bisa kerja sama dengan PPATK," ungkapnya.

Suparman menerangkan investigasi hakim mudah dilakukan, apalagi dalam kasus Pinangki ini. Dia menyebut semua kemungkinan soal putusan Pinangki mungkin saja terjadi.

"Hal semacam itu sangat mudah begitu untuk diidentifikasi, cek laporan laporannya di yudisial selama ini, buka lagi file-file. Nah semua itu nanti diidentifikasi, semua kemungkinan terhadap putusan kasus Pinangki itu bisa diidentifikasi," ujarnya.

"Bahwa kita tidak bisa membuktikan ada hal-hal lain yang tidak profesional, misalnya di balik putusan itu. Itu hal lain, tetapi, berhasil menemukan ketidakberesan putusan itu karena sesuatu," imbuhnya.

Diketahui, Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menjadi sorotan publik setelah menyunat hukuman jaksa Pinangki Sirna Malasari dari 10 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara. Padahal Pinangki sebagai aparat penegak hukum menjadi makelar kasus (markus) dengan terbukti melakukan korupsi dan pencucian uang. Adilkah vonis itu?

Penyunat vonis Pinangki dilakukan oleh lima hakim tinggi secara bulat. Mereka adalah Muhammad Yusuf, Haryono, Singgih Budi Prakoso, Lafat Akbar, dan Reny Halida Ilham Malik.

Baca track record putusan para hakim pemangkas vonis Pinangki di halaman berikutnya.