IDAI Jelaskan Bahaya Long COVID pada Anak: Rambut Rontok-Sesak Napas

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 26 Jun 2021 17:59 WIB
Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahaya anak jika terkena fenomena long COVID. Anak yang kena long COVID disebut akan mengalami gejala seperti rambut rontok hingga sesak napas.

Hal ini disampaikan oleh Ketum IDAI Aman B Pulungan dalam webinar 'Kajian Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka di Provinsi DKI Jakarta', Sabtu (26/6/2021). Aman mengatakan gejala ini akan didapat anak-anak setelah 6-8 bulan terpapar COVID.

"Nah kita IDAI mulai concern, kalau ketika testing pada anak ini sedikit, dan anak ini tidak tahu kita kena COVID apa tidak, dan anak ini tidak masuk program di-testing dan kalau mau sekolah dia tidak di-PCR, kita tidak tahu dia positif, nanti 6-8 bulan lagi dapatlah kita anak-anak, rontok rambutnya, loyo, sesak (napas), sulit konsentrasi, terus apa lagi, nyeri otot, tidak bisa tidur. Ini long COVID," kata Aman B Pulungan.

2 Anak Meninggal karena COVID dalam Sepekan

Selain itu, IDAI mengungkapkan data anak yang meninggal karena COVID-19. IDAI mengutip data dari beberapa dokter anak ada sekitar 14 anak meninggal karena COVID.

"Sekarang kasus positif ini cukup tinggi dan yang meninggal itu kita data mingguan. Yang meninggal itu data di dokter anak ada 13 atau 14, minggu lalu. Jadi berarti apa, setiap minggu ada dua anak yang meninggal (karena COVID)," kata Aman.

Aman mengatakan saat ini angka anak terpapar COVID sudah menyentuh sekitar 12 persen. Dia mengatakan satu dari delapan orang yang terpapar COVID di Indonesia merupakan anak-anak.

"Bagaimana COVID pada anak? Seluruhnya sudah tahu sekarang, angka kita ini sekitar 12 persen. Kemarin UNICEF juga mengatakan sekitar 12,5 persen. Jadi berarti apa, 1 di antara 8 itu adalah anak-anak. Jadi kalau ada seluruh dari 2 juta, ini harusnya kita ada 200 ribuan penderita anak pada saat itu," ujar Aman.

Meski demikian, Aman menduga masih banyak anak yang terpapar tapi belum terdeteksi. Karena itu, dia mengingatkan para orang tua waspada.

"Tetapi yang terdaftar di IDAI ini hanya 100 ribuan. Jadi berarti banyak sekali anak ini belum terdeteksi dan bisa tiba-tiba datang ke IGD, parah dan meninggal," ujarnya.

(zap/imk)