Gubernur Riau Tak Terima Disebut Antikritik Gegara Adukan Pendemo ke Polisi

Raja Adil Siregar - detikNews
Jumat, 25 Jun 2021 14:49 WIB
Pedemo bawa spanduk gambar Gubernur Riau, Syamsuar, yang diedit menjadi drakula (Raja Adil-detikcom)
Pendemo membawa spanduk gambar Gubernur Riau Syamsuar yang diedit menjadi drakula. (Raja Adil/detikcom)
Pekanbaru -

Gubernur Riau Syamsuar tak terima disebut antikritik setelah mengadukan pendemo yang mengedit fotonya ke polisi. Syamsuar menilai orang yang menudingnya antikritik tidak melihat pendemo itu secara langsung.

"Saya lihat ada komentar antikritik dari Komisi II DPR RI. Dia tidak tahu saja alat peraga yang dibawa pendemo. Coba kalau tahu disebut drakula segala macam, itu bukan kritik kalau sebut orang drakula," kata pengacara Syamsuar, Alhendri, Jumat (25/6/2021).

Alhendri menyebut kesalahan ada pada para pendemo. Dia menilai para pendemo menyerang pribadi Gubernur Riau Syamsuar.

"Ahli bahasa mana yang bisa bilang kalau itu bahasa kritikan. Coba tanya tokoh masyarakat mana pun, itu bukan kritikan, tapi menyerang karakter pribadi seseorang," katanya.

Dia mengatakan orang menilai Gubernur antikritik karena tidak tahu persoalan. Selama ini, katanya, mantan Bupati Siak dua periode itu tak pernah melarang masyarakat berdemo.

"Kalau ada tokoh yang komentari ini soal kebebasan berpendapat itu karena tidak tahu substansinya. Kalau soal penegakan hukum, demo, ya silakan saja karena itu hak masyarakat," katanya.

Sebelumnya, ada puluhan mahasiswa yang berdemo di halaman kantor Kejaksaan Tinggi Riau awal Juni lalu. Massa mendesak Korps Adhyaksa menyelidiki kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Rp 56,7 miliar di Pemkab Siak tahun anggaran 2014-2019.

Dugaan korupsi itu terjadi saat Syamsuar masih menjabat Bupati Siak. Massa berorasi dan membentangkan spanduk yang bertuliskan desakan agar penyidik segera memeriksa Gubernur Riau Syamsuar.

Dalam aksinya massa membawa spanduk bergambar Syamsuar yang sudah diedit. Foto itu diedit dengan gigi taring panjang layaknya drakula.

Tidak hanya foto karikatur, dalam spanduk itu juga tertulis 'Tangkap Gubernur Drakula' yang dibentangkan di depan pintu masuk Kejaksaan Tinggi Riau, Rabu (2/6). Gambar dan tulisan di spanduk itulah yang kemudian diadukan Syamsuar ke polisi.

Pendemo Tuding Syamsuar Antikritik

Para pendemo menilai langkah Syamsuar seperti anak-anak dan panik. Mereka menilai langkah Syamsuar mengadukan para pendemo gara-gara persoalan spanduk tak mencerminkan jiwa pemimpin.

"Terkait laporan ini, sebagai warga negara berdemokrasi, saya persilakan karena itu akses dan dilindungi undang-undang. Tetapi menurut kami itu menunjukkan bahwa Syamsuar orang yang antikritik, tidak sesuai budaya demokrasi yang saling laporkan," kata kordinator aksi, Alqudri, kepada detikcom, Kamis (24/6).

"Ini bukti beliau sosok yang antikritik dan beliau harus banyak belajar dari pemimpin kita Pak Jokowi. Pak Jokowi sering dihina, tekanan banyak, tetapi tidak pernah (mengadu)," sambungnya.

Komisi II Minta Syamsuar Jangan Baper

Komisi II DPR RI mengkritik langkah Gubernur Riau Syamsuar. Menurut Komisi II, Syamsuar terbawa perasaan atau baper terhadap para pendemo.

"Menurut saya apa yang dilakukan demonstran di sana masih dalam batas ungkapan protes mahasiswa aktivis yang kritis terhadap realitas sosial yang timpang. Akan menyedihkan bila kawan-kawan mahasiswa diam dan tidak peduli dengan realitas sosial yang menurut idealitas mahasiswa terjadi ketidakadilan dan penindasan," kata Wakil Ketua Komisi II Luqman Hakim kepada wartawan, Kamis (24/6).

"Kalau masih gampang baper, sebaiknya jangan jadi pejabat publik," imbuhnya.

Lihat juga video 'Fakta Jenazah Ditandu Pakai Sarung Gegara Jalan Rusak di Dumai':

[Gambas:Video 20detik]



(ras/haf)