Diadukan ke Polisi Gegara Foto Drakula, Pendemo Nilai Gubernur Riau Antikritik

Raja Adil Siregar - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 17:10 WIB
Pedemo bawa spanduk gambar Gubernur Riau, Syamsuar, yang diedit menjadi drakula (Raja Adil-detikcom)
Pendemo bawa spanduk gambar Gubernur Riau Syamsuar yang diedit menjadi drakula. (Raja Adil/detikcom)
Pekanbaru -

Gubernur Riau Syamsuar mengadukan pendemo yang membawa spanduk berisi foto dirinya diedit menjadi drakula ke polisi. Pendemo menilai langkah Syamsuar seperti anak-anak dan panik.

"Terkait laporan ini sebagai warga negara berdemokrasi saya persilakan karena itu akses dan dilindungi undang-undang. Tetapi menurut kami itu menunjukkan bahwa Syamsuar orang yang anti kritik, tidak sesuai budaya demokrasi yang saling laporkan," kata kordinator aksi, Alqudri, kepada detikcom, Kamis (24/6/2021).

Alqudri mengatakan pengaduan ke Polda Riau itu tak mencerminkan jiwa seorang pemimpin. Bahkan dia membandingkan dengan sikap Presiden Joko Widodo yang tak pernah membuat pengaduan karena dikritik.

"Menurut kami, karena melihat respons gubernur tidak dewasa, ini bukti beliau sosok yang antikritik dan beliau harus banyak belajar dari pemimpin kita Pak Jokowi. Pak Jokowi sering dihina, tekanan banyak, tetapi tidak pernah (mengadu)," katanya.

Gubernur Riau, Syamsuar pertama kali memimpin rapat awal tahunGubernur Riau Syamsuar saat pertama kali memimpin rapat awal tahun. (Dok. Humas Pemprov Riau)

Pria lulusan Fakultas Hukum itu berharap Syamsuar dapat membuka ruang dialog sehingga tidak panik dan kalang kabut karena dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi terkait dugaan korupsi bantuan sosial Rp 56,7 miliar di Pemkab Siak.

"Secara etika seharusnya pak Gubernur ini membuka ruang dialog, ini malah seperti orang panik. Kalau beliau bersih ya nggak perlu panik, nggak perlu kalang kabut dan undang mahasiswa untuk diskusi," katanya.

Alqudri Beberkan Alasan Edit Foto

Alqudri kemudian membeberkan alasan mengedit foto Syamsuar jadi drakula. Menurutnya, itu hanya perumpamaan terkait kasus korupsi.

"Terkait editan foto, setiap orang bebas ya untuk interprestasikan itu. Ini lebih kepada substansi karena drakula ini simbol sesuatu yang menghisap darah kepada korban, korupsi itu membunuh pelan-pelan dan tindakan lain yang membuat rakyat menderita ya itu, analoginya begitu," kata Alqudri.

"Redaksional kami tidak ada Syamsuar drakula, tidak ada seperti itu. Kami kan pakai Gubernur, Gubernur drakula. Jadi menurut kami butuh kecerdasan atau intelektual lebih untuk melihat ini. Jangan kekanak-kanakan lah," katanya tegas.

Terakhir, ia berharap Kejaksaan Tinggi tetap mengusut laporan mereka terkait dugaan korupsi bantuan sosial di Siak. Apalagi dugaan itu mengarah kepada Syamsuar yang saat itu menjabat Bupati Siak.

"Harapan kami jadikan hukum ini sebagai panglima. Menjalankan hukum dengan sebaik-baiknya, khususnya kejaksaan dalam memproses ini (dugaan korupsi). Itu satu hal berbeda, kasus beliau untuk di kejaksaan harus tetap lakukan penyelidikan di lapangan. Kami siap kalau kejaksaan mau minta bukti-bukti," katanya.

(ras/isa)