Nekat Beroperasi, 7 Truk Peti Kemas Dihadang Pendemo

Nekat Beroperasi, 7 Truk Peti Kemas Dihadang Pendemo

- detikNews
Senin, 20 Mar 2006 12:11 WIB
Jakarta - Tidak semua sopir setuju dengan aksi mogok massal yang sekarang tengah berlangsung. Masih ada sopir yang nekat beroperasi. Tapi langkah mereka terhadang oleh peserta mogok kerja yang menuntut pencabutan SK Menkeu Nomor 527/KMK.03/2003 tentang PPN biaya pengiriman barang.Sopir yang tak ikut mogok kerja menilai, aksi yang disponsori DPP Organda itu justru merugikan para sopir karena kehilangan penghasilan."Kalau begini terus saya bisa tidak dapat makan," kata Zen Kurnia (40), seorang sopir yang tidak mengikuti aksi mogok kepada detikcom, Senin (20/3/2006) pukul 11.00 WIB.Mobil Zen dicegat sopir-sopir yang mogok di Pintu Masuk I Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Akhirnya dia memarkir mobilnya di pinggir jalan sambil menunggu untuk bisa masuk ke pelabuhan. "Saya masih menghubungi pihak pelabuhan untuk bisa masuk ke dalam," kata Zen. Zen membawa truk yang mengangkut dua buah peti kemas berukuran besar. Peti kemas ini adalah milik PT Eka Darma Prima, perusahaan karbon yang berlokasi di Merak. Rencananya peti kemas tersebut akan dikirim dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Belawan, Medan.Zen mengaku rugi besar akibat aksi mogok ini. Biasanya dia setiap hari bisa dua kali bolak-balik Merak-Tanjung Priok untuk mengantar kontainer. Dari jasanya itu dia mengantongi Rp 800 ribu. Ongkos itu termasuk untuk makan, BBM, dan biaya macam-macam.Menurut pemantauan detikcom, sekitar 6 truk peti kemas mengalami nasib yang sama seperti Zen. Mereka dihadang agar tidak masuk ke pelabuhan Tanjung Priok oleh sopir-sopir yang mogok.Suara MarsumSementara itu Marsum (37), salah seorang peserta mogok, mempunyai pendapat berbeda dengan Zen. Menurutnya, jika tidak dilakukan demo sekarang maka kerugian sopir truk akan bertambah besar."Mendingan rugi sekarang lebih kecil, dibandingkan nanti banyak terdapat potongan," katanya. Ia mengungkapkan tambahan pungutan pajak akan membuat pendapatan sopir semakin kecil. Ini disebabkan banyaknya pungutan liar yang ada di wilayah pelabuhan."Di pelabuhan setiap kontainer dikenakan biaya Rp 15.000 sampai Rp 20.000 dan ini sangat memberatkan, "keluhnya.Ia mencontohkan, biasanya dia mengangkut semen PT Indocement di Bogor ke Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk jasanya ini ia mendapatkan Rp 340.000 untuk sekali jalan. Biaya itu sudah termasuk makan dan solar."Kalau ditambah PPN dan pungli bisa tambah kecil penghasilan kita," curhatnya. (nal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads