Round-Up

Anggapan RS Covidkan Pasien Dibantah Mentah-mentah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 05:32 WIB
Jakarta -

Beredar sejumlah tudingan bahwa rumah sakit yang meng-COVID-kan pasiennya baik di sejumlah aplikasi perpesanan maupun di media sosial. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) menepis tudingan tersebut.

Persi menegaskan, ada aturan yang ketat untuk mendiagnosa pasien COVID-19. Pihak rumah sakit perlu melampirkan banyak dokumen yang mendukung diagnosa tersebut.

Sekjen Persi, Lia G Partakusuma, dalam jumpa pers virtual, mengatakan meminta masyarakat percaya kepada rumah sakit. Dia menekankan, dokter pasti akan mengobati sesuai dengan kondisi pasiennya.

"Jadi masyarakat jangan juga merasa bahwa kalau diagnosa COVID pasti akan diklaim oleh RS sebagai pasien COVID. Ya tentu kami mengimbau sama-sama kita menaruh kepercayaan, bahwa tentu dokter akan mengobati sesuai dengan kondisi pasien," tuturnya.

Kabupaten Ciamis masuk zona merah COVID-19. Guna cegah lonjakan kasus, ruang isolasi untuk pasien COVID-19 pun ditambah di Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi Keluarga.Foto: ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI

Diagnosa COVID-19 Butuh Waktu

Lia menjelaskan, diagnosis COVID-19 memang membutuhkan waktu. Virus Corona, lanjutnya, juga membutuhkan waktu untuk berkembang di tubuh manusia. Karena itu, terkadang ditemukan pasien yang sebelumnya mengaku sehat tiba-tiba dinyatakan positif Corona.

"Ada satu kendala pada waktu awal, diagnostik itu agak membutuhkan waktu yang lama. Ada yang diagnostik cepat di rs besar atau yang labnya punya fasilitas lengkap, sehingga dalam satu hari bisa terdiagnosa. Ada juga yang sampai berhari-hari," papar dia.

"Yang namanya pemeriksaan lab itu tergantung dengan individu. Jadi tidak misalnya satu orang hari ini diperiksa negatif, kemudian satu minggu kemudian negatif. Bahkan ada satu proses di mana si virus itu membutuhkan waktu. Bisa saja ada gejala tapi belum terdeteksi oleh alat diagnostiknya. Banyak hal yang bisa menyebabkan hasil diagnostik ini punya satu kekurangan, ada satu kekurangan mungkin belum ditemukan pada saat itu tapi ditemukan pada saat yang lain," lanjut Lia.

Diduga Ulah Oknum

Lia menduga istilah 'rumah sakit meng-COVID-kan pasien' adalah ulah sejumlah oknum. Lia menepis mentah-mentah tuduhan tersebut.

"Istilah meng-COVID-kan pasien saya rasa itu oknum. Kami tidak pernah menginginkan ada satu pun rumah sakit yang meng-COVID-kan. Itu mudah-mudahan tidak ada satupun rs yang berkeinginan meng-COVID-kan begitu ya. Karena itu, tidak baik dan dampaknya sangat buruk untuk rumah sakit se-Indonesia. Kalaupun ada misalnya, kemudian menyamaratakan 3.000 rumah sakit seperti hal yang sama juga tidak benar," tutur dia.

(isa/isa)