Kawin Kontrak di Cianjur, Bupati: Derajat Kaum Perempuan Diinjak-injak

Isfari Hikmat - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 15:55 WIB
Jakarta -

Praktik kawin kontrak merebak di tengah masyarakat yang memanfaatkan kaum perempuan untuk dieksploitasi. Mereka yang terlibat telah memperlakukan perempuan sebagai barang dagangan untuk dijajakan kepada pria hidung belang.

"Bagaimana seorang perempuan sudah dilecehkan seperti barang belian coba," ungkap Bupati Cianjur Herman Suherman.

Menurutnya, komplotan ini memanfaatkan kaum perempuan yang terbutakan dengan harta dan gaya hidup hedonisme. Tergiur iming-iming mendapatkan uang banyak agar bisa membeli handphone, pergi ke karaoke, bahkan ingin memiliki motor, mobil, hingga rumah.

"Sementara dengan tadi itu ya hanya butuh duit untuk gengsi-gengsian, untuk make-up, ke karaoke dan sebagainya, beli handphone dan sebagainya sampai mau menawarkan diri dengan kawin kontrak sekian bulan," ungkap Bupati. Menurutnya, harkat derajat kaum perempuan Cianjur sudah diinjak-injak dengan praktik kawin kontrak.

Kenyataannya di lapangan, kaum perempuan selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dengan adanya kawin kontrak ini.

"Diperjanjian itu katanya dikasih motor, si motor memang sudah dikasih, tapi pas waktu si kontrak itu habis, kenapa si motor itu harus diambil lagi. Kan sudah perjanjian," ujar Merah, pelaku kawin kontrak Selasa (15/6/2021) di kawasan Puncak.

Kaum perempuan ini telah diperlakukan sebagai komoditas utama dalam praktik kawin kontrak. Mereka diperdaya akan mendapatkan sejumlah keuntungan dengan menjalani kawin kontrak.

Celakanya mereka juga yang paling sering menderita dalam setiap kesempatan. Karena mereka lah yang harus melayani nafsu liar pria hidung belang.

"Katanya sih ya kalau si cewek menolak kayak gitu disiksa habis-habisan, sampai ditendang, sampai dipukul sampai bagaimana gitu," ujar Merah, sebut saja namanya demikian.

Bahkan dia mendegar cerita rekannya ada yang sampai disiram air panas karena menolak berhubungan badan.

Praktik ini memang melibatkan banyak pihak, mulai dari penghubung ke peminat di Timur Tengah hingga penyedia tempat tinggal selama kawin kontrak. Mereka berkoordinasi secara terpisah namun saling mendukung.

Ada yang menjemput di bandara, ada yang menyiapkan tempat, juga ada yang mencari seseorang yang berperan sebagai penghulu, saksi, dan wali.

Sebelum peminat di Timur Tengah berangkat ke Indonesia, dia akan menghubungi seseorang. "Teman ini disuruh sama arabnya disuruh cariin istri buat kawin kontrak sekian hari," kata Ecep, bukan nama sebenarnya, yang mengaku bertugas menjemput di bandara.

Komplotan ini juga ada yang bertugas menyediakan perempuan untuk dinikahi oleh pria arab selama mereka berliburan di Puncak, Bogor, atau Cianjur. Mereka tidak memandang warna kulit, asal yang penting ayu dan tidak neko-neko.

Fenomena ini bila dibiarkan dapat merusak tatanan di masyarakat, semakin mengkhawatirkan ketika kita melihat fakta di lapangan.

"Bahwa ini sudah menyebar kepada bukan hanya kepada para orang dewasa tetapi sudah menyebar kepada para remaja dan anak-anak ini jelas merupakan sebuah ancaman yang cukup serius yang tidak boleh dibiarkan," ungkap Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Cianjur, H. Ahmad Yani.

MUI Kabupaten Cianjur telah lama menelusuri fenomena ini di tengah masyarakat. Kawin kontrak ini sebenarnya membuat kaum perempuan direndahkan derajatnya layaknya barang jualan.

Mereka diperdaya oleh iming-iming menjalani kehidupan rumah tangga yang semu. Sehingga akhirnya mengeluarkan fatwa haram terhadap fenomena kawin kontrak.

(isf/fuf)