Corona Melonjak, Tokoh Madura Usul Pencegahan Berbasis Kearifan Lokal

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 20 Jun 2021 01:09 WIB
Sejumlah warga menikmati senja di pantai sisi timur Jembatan Suramadu di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (17/4/2020). Akibat pandemi virus Corona (COVID-19), suasana di kawasan itu sepi pengunjung. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj.
Ilustrasi (Suasana kawasan Jembatan Suramadu saat pandemi/Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta -

Kasus Corona di Bangkalan, Madura, Jawa Timur mengalami lonjakan. Ketua Bidang Keagamaan DPP Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) Abdul Muiz Ali mengusulkan agar sosialisasi pencegahan Corona dilakukan dengan kearifan lokal.

"Masyarakat Madura diminta untuk mematuhi pemerintah terkait pengendalian sebaran Covid-19 di wilayah Madura," kata Abdul Muiz dalam keterangan yang diterima detikcom, Sabtu (19/6/2021).

Abdul mengatakan orang Madura itu dikenal dengan kepatuhan dan ketaatan yang tinggi kepada pemerintah. Hal itu sesuai dengan filosofi Madura, 'Bepak bebuk, guruh ratoh'.

Abdul mengatakan filosofi itu dengan arti kata bepak bebuk adalah orang tua, guruh (ulama) ratoh (pemerintah). Filosofi itu memiliki makna sikap dan karakter masyarakat Madura yang memiliki sikap kepatuhan yang tinggi kepada kedua orangtuanya, ulama dan pemerintah.

Sebagai orang Madura sikap dan karakter ini harus kita tunjukkan. Sehingga Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI itu menilai, pendekatan sosialisasi menggunakan kearifan lokal ini.

"Oleh karenanya, agar lebih efektif, pemerintah dalam hal ini satgas Covid-19 di Madura dan Surabaya agar bisa mengelola karakter orang Madura dengan baik," jelasnya

"Selain satgas Covid-19 tetap menggunakan SOP yang sudah ditetapkan, penting juga satgas Covid-19 di wilayah Madura menggunakan pendekatan lokal wisdom, yaitu melihat kearifan, kebijaksanaan atau kebiasaan-kebiasaan yang dibangun atas tradisi-tradisi yang diwariskan orang Madura," kata dia.

Abdul juga menyarankan agar Satgas Covid-19 untuk melakukan komunikasi secara intens dengan tokoh masyarakat Madura. Dia mengatakan karakter orang Madura memang keras namun hatinya mudah luluh.

"Penting satgas Covid-19 melakukan sosialisasi dan komunikasi lebih intensif kepada masyarakat melalui kekuatan tokoh dan ulama setempat. Orang Madura itu pada umumnya, meski mempunyai karakter yang keras, namun hatinya mudah luluh dan taat jika yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui guru atau ulama setempat," tutur dia.

(lir/lir)