HNW Usul Pendidikan Tatap Muka di Madrasah Ditunda

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 08:54 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Hidayat Nur Wahid meminta Pendidikan Tatap Muka (PTM) bagi madrasah ditunda. Mengingat pandemi COVID-19 belum usai, bahkan ditambah dengan varian-varian baru.

Hidayat mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) menyampaikan kemungkinan PTM di daerah-daerah tertentu yang semula direncanakan mulai dibuka pada Juli, akan diundur. Sehingga dengan alasan dan tujuan yang sama, Kementerian Agama (Kemenag) juga sebaiknya mengumumkan penundaan kegiatan PTM untuk madrasah dan sekolah keagamaan di bawah Kemenag.

Apalagi menurutnya persiapan komprehensif untuk pelaksanaan PTM madrasah, seperti validasi data soal vaksinasi untuk guru dan tenaga pendidikan, belum dilaporkan oleh Kemenag untuk dikaji dan diputuskan dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR.

"Melihat perkembangan COVID-19 yang makin meluas dan membahayakan, sementara vaksinasi bagi guru dan pengelola madrasah belum terdata dengan valid, persiapan madrasah juga belum maksimal, sebaiknya PTM untuk madrasah diundur, agar madrasah tak menjadi klaster baru penyebaran COVID-19, sampai pandemi ini benar-benar tidak membahayakan penyelenggara dan penyelenggaraan PTM," ujar Hidayat dalam keterangannya, Jumat (18/6/2021).

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini menjelaskan menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dalam sepekan terakhir naik hingga 38,3 persen, keterisian ruang isolasi naik hingga 27.43 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Penambahan kasus baru pada pekan pertengahan Juni juga sudah hampir menyentuh 10.000 per hari.

Dia menyebut kondisi ini semakin buruk ditambah dengan masuknya varian delta COVID-19 ke Indonesia, yang disebut epidemolog sebagai varian super karena lebih cepat menular, menimbulkan keparahan, dan bisa menyiasati antibodi yang sudah terbentuk. Kemunculan varian baru tersebut yang menyebabkan lonjakan kasus di sejumlah daerah, khususnya Jawa Tengah, Jawa Barat, Madura dan DKI Jakarta.

Pria yang akrab disapa HNW ini menilai selain tidak ada lagi peningkatan kasus Corona, syarat mutlak pelaksanaan PTM adalah terpenuhinya vaksinasi bagi seluruh tenaga pendidik. Sayangnya Kemenag melalui Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan M Ishom Yusqi (30/5), menyatakan tidak mempunyai data final keseluruhan guru/tenaga pendidikan di madrasah yang telah menerima vaksin.

Berbeda dengan Kemendikbud-Kemenristek yang pada 31 Mei 2021 menyatakan sebanyak 1,5 juta guru sudah divaksin. Namun Hidayat menyebut angka tersebut baru 28 persen dari target keseluruhan tenaga pendidik. Bahkan dengan kejelasan data itu pun Kemendikbud sudah mewacanakan penundaan PTK mulai Juli 2021.

Di samping itu, Hidayat juga mengkritisi persiapan protokol kesehatan di 60 persen madrasah, sebagaimana dinyatakan oleh Direktur KSKK Kemenag (30/5). Pasalnya, persiapan tersebut hanya sebatas penyediaan alat pengukur suhu dan tempat pencuci tangan.

Padahal diungkapkannya, protokol kesehatan sering tidak dipraktekan, terutama di area parkir, warung/kafe sekitar sekolah, ruang guru, dan ruang satpam serta petugas kebersihan. Hal ini berpotensi meningkatkan penyebaran COVID-19 di kalangan pendidik, juga peserta didik dan orang tua yang berinteraksi dengan mereka.

"Oleh karena itu lebih baik PTM ditunda dulu hingga kasus COVID-19 turun, madrasah benar-benar siap, dan Kemenag benar-benar bisa memfasilitasi terwujud dan terlaksananya protokol kesehatan di seluruh madrasah dan sekolah-sekolah keagamaan di bawah Kemenag," katanya.

Di samping itu, lanjut dia, evaluasi serta persiapan modul pembelajaran daring harus dilakukan, serta mengusahakan inovasi kurikulum pembelajaran. Hal ini agar siswa tidak menjadi bosan.

"Kemenag juga harus mengatasi soal internet dan pulsa yang selama ini sering menyulitkan pembelajaran daring dan membebani Orang tua serta siswa, di antaranya dengan membuat terobosan bekerja sama dengan TVRI dan RRI di tingkat Nasional maupun Lokal. Ini perlu dilakukan belajar jarak jauh dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan maksimal. Bisa dijangkau secara mudah dan murah oleh seluruh peserta didik," tandasnya.

Menurutnya, upaya ini perlu dilakukan dengan maksimal guna mencegah terjadinya 'loss generation'.

"Dan siswa madrasah tetap bisa belajar secara berkualitas, dan aman/sehat, sekalipun COVID-19 masih menyebar dan membahayakan," pungkasnya.

Simak video 'Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka di Jakarta Disetop!':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)