Round-Up

Khawatirnya HRS Pengadilan Dikepung Buntut Imam Besar Disindir Jaksa

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 08:05 WIB
Habib Rizieq
Habib Rizieq (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

Dia pun menasihati jaksa agar berhati-hati dalam berkata terkait sebutan imam besar. Menurutnya, pendukungnya siap membela dirinya jika dihina orang lain.

"Nasihat saya kepada JPU agar hati-hati. Jangan menantang para pecinta, karena cinta itu punya kekuatan dahsyat, yang tak kan pernah takut akan tantangan dan ancaman. Saya tidak bisa membayangkan di masa pandemi yang semakin parah ini, bagaimana jika jutaan pecinta yang kemarin menyambut kepulangan saya di Bandara terprovokasi oleh tantangan JPU, lalu berbondong-bondong mendatangi pengadilan ini dari segala penjuru," sebutnya.

Dia pun menyebut pendukungnya lebih dari 7 juta orang, angka ini disebutnya dari beberapa aksi. Dia khawatir pendukungnya yang jutaan orang itu mengerumuni PN Jaktim.

"Apalagi jika 7,5 juta peserta aksi 212 tahun 2016, terlebih-lebih 15 juta peserta reuni 212 tahun 2018, yang datang berbondong-bondong mengepung pengadilan ini untuk menyambut tantangan JPU sekaligus membuktikan kekuatan cinta mereka, maka saya lebih tidak bisa membayangkannya lagi. Sekali lagi nasihat saya untuk JPU dan juga untuk semua musuh yang membenci saya, hati-hati, jangan menantang para pecinta, karena cinta tidak akan pernah bisa dikalahkan dengan kebencian," katanya.

GP Ansor Bersuara

GP Ansor turut mengomentari soal kekhawatiran HRS. GP Ansor meminta pemerintah menindak tegas setiap kerumunan.

"Itu psywar saja. Yang penting bagaimana ketegasan pemerintah terlebih lagi sekarang kondisi pandemi," kata Wakil Ketua Umum GP Ansor Moh Haerul Amri kepada wartawan, Kamis (17/6/2021).

Haerul menjelaskan istilah 'imam' itu berarti orang yang menjadi panutan dalam perilaku dan ucapan. Jika ditambahi menjadi 'imam besar', kata Haerul, maknanya tentu akan jauh lebih besar lagi.

"Kalau kita berbicara pada konteks ini, dengan segala permohonan maaf saya, pantaskah Habib Rizieq dianggap sebagai imam besar, yang pada kenyataannya menurut perundang-undangan yang berlaku di Indonesia beberapa kali beliau tersangkut hukum atas perilakunya-ucapannya. Perlu ditiru atau tidak? Pantas nggak mendapatkan gelar atau embel-embel sebagai imam besar," ujar Haerul.

Haerul kemudian menjelaskan dua organisasi besar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah. Menurut Haerul, Ketua Umum PBNU dan Muhammadiyah tak pernah menganggap dirinya sebagai imam besar.

"Itu menandakan tingkat egaliterian, tingkat ketawaduan pemimpin terhadap umatnya sangat dekat sekali, tanpa embel-embel sebagai imam besar pun mereka sudah menjadi tokoh menjadi panutan, menjadi imam dari masing-masing organisasinya, tanpa mengesampingkan organisasinya lainnya," ujar Haerul.


(knv/man)