JICT Bantah Sopir Truk soal Bongkar-Muat Lambat Usai Pungli Disikat

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 17:24 WIB
Konferensi pers JICT (Ilman/detikcom)
Konferensi pers JICT (Ilman/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah sopir truk mengaku proses bongkar-muat di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, lambat usai tak ada pungutan liar (pungli). Direktur Utama PT JICT, Ade Hartono, membantah hal tersebut.

"Kami tegaskan terhadap sopir tidak kasih tips, tidak dilayani itu sama sekali tidak benar. Mohon disampaikan. Itu sama sekali tidak benar," ujar Ade di kantor PT JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/6/2021).

Dia meminta para sopir truk tak memberikan uang tips. Menurutnya, tanpa uang tips, JICT tetap memberikan pelayanan bongkar-muat.

"Kepada pengemudi truk jangan memberikan tips. Kami tidak menerima tips. Kami memberikan pelayanan di JICT ini yang bebas pungli," ucapnya.

Wakil Direktur Utama PT JICT, Budi Cahyono, mengatakan proses bongkar muat-barang di JICT harus tuntas dalam waktu 117 menit. Dia mengatakan selama ini proses bongkar-muat rata-rata tuntas dalam waktu 109 menit.

"Impor maksimal 117 menit. Jadi data menunjukkan performa kami itu di bawah target, kinerja kami 109 menit. Jadi kalau ada truk impor butuh waktu 1-2 jam wajar. Pada waktu peak (sibuk) bisa lama lagi, karena dari gate ke lapangan itu butuh waktu, truk nggak bisa ngebut. Kemudian untuk mencari kontainer dulu, kalau posisinya di bawah maka harus memindah. Maka standar kerja 117 menit," kata Budi.

Sementara itu, proses bongkar-muat kontainer barang ekspor dilakukan dengan standar 85 menit. Dalam kegiatannya, kata Budi, rata-rata bisa diselesaikan dalam waktu 72 menit.

"Proses masuknya truk punya pola di mana weekend lebih banyak, karena pada weekday eksportir di pabrik, kemudian weekend masuk pelabuhan jadi numpuk. Maka tidak tertutup kemungkinan terjadi penumpukan pada weekend tapi masih bisa kami manage," ucapnya.

Klarifikasi Video Pungli Pakai Kresek

Pada kesempatan itu, Budi juga mengklarifikasi video sopir mengeluhkan operator crane lambat dalam melayani truk karena tak ada pungli. Menurutnya, video itu dibuat saat istirahat salat Jumat pada 11 Juni 2021.

"Kejadiannya itu kan penangkapan (delapan operator crane) itu hari tanggal 10, Kamis. Jadi video itu kita perkirakan Jumat tanggal 11 Juni ketika istirahat," ujarnya.

Menurutnya, ketika jam istirahat salat Jumat, aktivitas bongkar-muat dihentikan. Budi mengatakan pada saat itu, sistem IT juga dilakukan penyegaran.

"Viral video di masyarakat kami perlu jelasan ini kejadian diambil waktu istirahat salat Jumat. Pada hari Jumat ini istirahat operator itu semua karyawan JICT dari 11.30 sampai jam 1 (siang) itu diberi kesempatan kepada permanen maupun outsourcing. Kemudian kami untuk gunakan IT refresh. Kalau sistem tidak di-refresh itu tidak maksimal," katanya.

Sebelumnya, sejumlah pelaku pungli di kawasan JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara, ditangkap polisi. Salah seorang sopir kontainer bernama Rofiudin (23) menceritakan pengalamannya terkena pungli.

Rofiudin membenarkan operator crane bongkar-muat barang sering meminta uang kepada sopir. Permintaan uang itu tidaklah resmi alias pungli.

"Benar (operator juga sering melakukan pungli)," ujar Rofiudin saat ditemui di sekitar JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/6).

Rofiudin menceritakan sopir menunjukkan uang Rp 5.000 kepada operator. Uang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan ditarik ke atas untuk diambil.

"Biasa, kayak semacam begini (menunjukkan uang). (Uang dimasukkan) pakai kresek naik ke atas," ucapnya.

Dalam sehari, Rofiudin mengaku mengeluarkan uang Rp 25-50 ribu sekali jalan untuk pungli. Dia merasa keberatan atas pungli yang ada.

Menurutnya, pungli yang dilakukan para operator crane itu masih terjadi sehari sebelum ada perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kini pungli operator bongkar-muat sudah tak ada.

Namun, kata dia, tak ada pungli bukan berarti muncul angin segar. Masalah baru terjadi, yakni lambatnya proses bongkar-muat.

"Sekarang diperlambat. Gara-gara nggak ada Rp 5.000, (bongkar-muat) diperlambat," katanya.

Rofiudin, yang sudah menjadi sopir kontainer selama 5 tahun itu, berharap proses bongkar-muat berjalan dengan baik meski tak ada pungli. Rofiudin mengaku, setelah tak ada pungli, dia bisa menghabiskan waktu belasan jam untuk menunggu proses bongkar-muat.

"Tergantung, kadang lima jam. Bisa masuk jam 8 malam, keluar pagi, jam 7-8," ujarnya.

"Kalau buat saya sih dari sopir, ya, itu alhamdulillah. Di jalanan ini sudah nggak ada preman-preman, jadi tenang kita juga," katanya.

(man/haf)