13 Gempa Susulan-Tinggi Air Laut di Maluku Naik 50 Cm Usai Gempa M 6

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 15:23 WIB
Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Foto Ilustrasi BMKG (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan analisis gempa bumi yang terjadi di Maluku Tengah, Maluku. Sebelumnya, gempa dilaporkan terjadi dengan magnitudo 6,1.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M=6,1 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi Mw=6,0," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, dalam keterangannya, Rabu (16/6/2021).

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar turun (normal fault).

BPBD dan masyarakat setempat melaporkan gempa menyebabkan kerusakan pada beberapa rumah tinggal, salah satunya pagar gereja di Desa Sounulu, Kecamatan Tehoru.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini tak berpotensi menimbulkan tsunami. Namun BMKG mencatat terjadinya kenaikan tinggi muka air laut.

"Berdasarkan hasil observasi tinggi muka air laut di stasiun Tide Gauge TEHORU menunjukkan adanya kenaikan muka air laut setinggi 0,5 m. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut," jelasnya.

Hingga pukul 13.35 WIB, BMKG mencatat terjadinya 13 gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 3,5.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama di wilayah sepanjang Pantai Japutih sampai Pantai Atiahu, Kabupaten Maluku Tengah, P Seram, mewaspadai gempa bumi susulan dan potensi tsunami akibat longsor ke/di bawah laut. Warga diminta menjauhi pantai menuju tempat tinggi apabila merasakan guncangan gempa cukup kuat.

"BMKG terus memonitor gempa susulan yang terjadi dan dampaknya terhadap kenaikan muka air laut," katanya.

BMKG juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," ucapnya.

Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,1 terjadi di Maluku Tengah, Maluku. Gempa dilaporkan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Informasi dari BMKG, gempa terjadi pada pukul 11.43 WIB, Rabu (16/6).

Lokasi gempa ada di koordinat 3,39 Lintang Selatan dan 129,56 Bujur Timur atau 67 km arah tenggara dari Maluku Tengah. Pusat gempa ada di kedalaman 10 km.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di Tehoru, Masohi, Bula, Kairatu, Saparua, Wahai dalam skala III MMI, yang artinya getaran dirasakan nyata dalam rumah, seperti ada truk melintas. Guncangan lebih lemah dirasakan di Pulau Ambon dalam skala II-III MMI, yang artinya getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

(jbr/idh)