Beda Anggaran Pembuatan Vaksin Merah Putih dengan Nusantara

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 14:44 WIB
Vaksinasi massal terus dilakukan di Jakarta. Kali ini ratusan santri dan warga Lembaga Dakwan Islam Indonesia mendapat suntikan vaksin COVID-19.
Foto: Ilustrasi vaksin COVID-19 (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Prof Amin Subandrio menjelaskan anggaran dalam membuat Vaksin Merah Putih. Saat ini vaksin COVID-19 produksi dalam negeri itu menggunakan anggaran Rp 11 miliar.

"Sejauh ini pengembangan Vaksin Merah Putih di Lembaga Eijkman memang dibiayai sepenuhnya BRIN. Saat ini cuma Rp 11 miliar dan kami mengusulkan untuk tahun ini tambahan sekitar Rp 7 koma sekian (miliar). Tapi alhamdulillah belum cair sampai saat ini sejak Januari," kata Amin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Amin kemudian memaparkan anggaran ideal dalam riset vaksin COVID-19. Dia mengatakan ideal anggaran riset itu sekitar Rp 500 miliar.

"Kalau kita bandingkan dengan ekstrem, yang Moderna atau Pfizer itu biayai sangat besar. Totalnya, sebetulnya pengembangan vaksin termasuk uji klinis. Kalau pengembangan vaksin idealnya Rp 50 sampai Rp 100 miliar, kalau idealnya. Tapi kalau uji klinik butuh sekitar Rp 20 ribu subjek, masing-masing itu biayanya Rp 20 juta. Jadi Rp 400 M untuk uji klinik fase 1, 2 dan 3. Jadi mungkin idealnya biaya pengembangan vaksin itu sekitar Rp 500 M," katanya.

Sementara itu, penggagas vaksin Nusantara, dokter Terawan Agus Putranto menjelaskan biaya yang dihabiskan untuk membuat Vaksin Nusantara. Dia menyebut pembiayaan dilakukan gotong-royong.

"Untuk Vaksin Nusantara selama ini adalah gotong-royong partisipasi dari masyarakat. Waktu di Undip juga dokter ikut urunan. Jadi memang ini hal yang kita salut sekali," katanya.

Hingga saat ini, total anggaran yang dihabiskan Terawan dalam pembuatan vaksin Nusantara sekitar Rp 2 miliiar. Namun dalam dana itu juga disertakan dengan perawatan laboratorium.

"Kemudian di RSPAD juga pengeluaran tidak terlalu besar karena kami paling membayar labnya, dan kami memperbaiki laboratoriumnya supaya semua terpenuhi tinggal diajukan saja, itu juga tidak terlalu besar, yang besar memperbaiki lab. Kurang lebih sekitar Rp 2 miliar untuk itu semua. Dan saya harapkan kegiatan gotong royong ini berjalan terus sehingga tidak mahal untuk mewujudkan Vaksin Nusantara," lanjutnya.

(lir/zak)