Tombol Darurat Diusulkan Agar Sopir Truk Cepat Lapor Bila Kena Pungli

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 21:42 WIB
Jakarta -

Ketua Umum Kamselindo, Kyatmaja Lookman, menilai wajar kasus pungutan liar (pungli) lebih terekspos jika dibandingkan era dahulu. Sebab, saat ini semua hal bisa disebarkan melalui media sosial.

"Memang nggak bisa dipungkiri dengan kemajuan teknologi kawan driver ini kan megang media sosial untuk disebar dan dengan jumlah massa yang besar, viralnya cepat," kata Kyatmaja dalam acara d'Rooftalk bertema 'Budaya Pungli di Pelabuhan Priok' yang disiarkan langsung di detikcom, Selasa (15/6/2021).

Dia mengatakan konten terkait pungli tersebut akan cepat tersebar. Dia menilai para sopir menyebarkan kasus pungli yang ditemui di lapangan sebagai kontrol sosial.

"Karena zaman dulu kegiatan itu tidak terekspose dibandingkan sama sekarang yang gampang didokumentasi, difoto, di-upload media sosial dan masyarakat bisa lihat," lanjutnya.

Hal itu, menurutnya, menandakan para sopir truk melek teknologi. Dia lantas menyarankan adanya tombol darurat yang bisa digunakan oleh para sopir truk jika ada kegiatan pungli yang dialaminya.

Dia yakin Polri bisa membangun sistem itu. Menurutnya, penerapan teknologi tombol darurat ini bisa melibatkan pihak pengelola pelabuhan.

"Sekarang kan Pak Kapolri lagi gencar dengan masalah teknologi, seperti kita ketahui beliau resmikan e-TLE, SIM online, mungkin kalau tombol darurat yang terhubung dengan truk-truk itu juga bisa direalisasikan," ujar Kyatmaja.

Kyatmaja mengatakan perusahaan kini bisa terhubung dengan seluruh truk lewat GPS, sehingga bisa diketahui keberadaannya. Dia menilai hal itu bisa jadi ruang kerja sama dengan pihak kepolisian untuk membuat sistem tombol darurat.

"Kendaraan kita semua kan terkoneksi dengan GPS jadi teknologi berbasis 4.0 itu sudah diterapkan sama pengusaha truk, sehingga pengusaha truk itu hampir semua truk itu terkoneksi dengan internet. Mungkin Pak Kapolres kalau butuh akses dari kawan yang beroperasi di pelabuhan juga bisa," ujarnya.

"Jadi kita bisa lihat jumlah truk yang masuk dalam pelabuhan, jam-jam sibuk kapan, potensi simpul kemacetan kapan. Seperti kita ketahui permasalahan premanisme di situ kan terjadi karena kemacetan. Hal-hal itu juga bisa diantisipasi dengan teknologi," lanjutnya.

Dia mengatakan butuh sistem yang bisa diterapkan secara terus-menerus agar penindakan premanisme pelaku pungli itu berjalan konsisten. Kyatmaja berharap sistem tombol darurat itu dapat terealisasi.

"Saya kira ke depan kita menunjukkan penindakan yang lebih konsisten, kita butuh sistem yang bisa terimplementasi dan bisa diterapkan secara terus-menerus. Karena Pelindo menerapkan hotline untuk bisa mengadu, sehingga kalau ada permasalahan itu bisa langsung telepon, tapi di satu sisi tombol darurat itu paling menarik untuk diimplementasi. Sehingga tombol darurat bisa kita pikirkan lagi untuk sekarang," tuturnya.

Simak selengkapnya di halaman berikut