Ditemukan di Jakarta, Apa Itu Varian COVID Alpha, Beta dan Delta?

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 12:04 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Ilustrasi. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta mengonfirmasi adanya tiga varian baru COVID-19 yang menyebar di Ibu Kota. Tiga varian itu yakni Alpha, Beta, dan Delta. Apa itu?

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta Widyastuti menerangkan 19 kasus varian baru COVID-19 telah masuk ke Ibu Kota. Sebagian besar dari mereka yang terpapar virus tersebut adalah pekerja migran.

Widyastuti menyebut 5 dari 19 orang tersebut merupakan warga negara Indonesia. Saat ini kelima orang tersebut telah dinyatakan sembuh.

"Ada tiga varian yang ditemukan di Jakarta, (yaitu) Alpha, Beta, dan Delta," ujar Widyastuti.

Widyastuti belum mengetahui asal penularan virus dari kelima orang tersebut. Adapun keempat belas orang yang belum dinyatakan sembuh kini masih menjalani karantina di Wisma Atlet Pademangan, Jakarta Utara.

Lantas seperti apa efek dari virus varian Alpha, Beta, Delta?

Varian Alpha

Virus varian Alpha ini ditemukan pertama kali di Inggris. Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio mengungkap pada awal Maret kemarin kalau Corona varian B117 atau Alpha asal Inggris sudah ditemukan di DKI Jakarta.

Merebaknya kasus Corona B117 memicu peningkatan kapasitas WGS, termasuk dari Eijkman. Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular dr Siti Nadia Tarmizi menyebut tidak ada bukti kalau varian Corona B117 lebih ganas dibandingkan dengan varian yang mendominasi sebelumnya.

"Dari penelitian di negara lain varian ini disebut lebih cepat menular namun tidak lebih mematikan," ujar Nadia, Selasa (8/3/2021).

Varian Beta

Varian beta merupakan virus asal Afrika Selatan. Awal Mei kemarin ada 1 kasus Corona mutasi Afrika Selatan di Bali. Dan, kini terkonfirmasi juga ada di Jakarta.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta supaya masyarakat lebih mewaspadai varian mutasi Corona baru yang penularannya lebih tinggi. Berdasarkan data yang dipublikasi oleh ZOE COVID Symptom Study, mengungkapkan setidaknya 15 gejala yang mungkin disebabkan varian baru virus Corona Afrika Selatan.

Gejalanya antara lain, kehilangan kemampuan indra penciuman (anosmia), demam, batuk terus-menerus, kelelahan parah, sakit kepala, sakit perut, nyeri dada, sakit tenggorokan, sesak napas yang parah, nyeri otot, suara serak, delirium, diare, dan ruam kulit.

Varian Delta

Corona varian delta ini pertama kali ditemukan di India. Varian baru Corona itu lalu diteliti oleh ahli epidemiologi asal Inggris dan diberi nama varian B1617.2. Varian delta ini disebut 60 persen lebih mudah menular dibandingkan varian Alpha atau B117 yang pertama kali ditemukan di Inggris.

Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Budi Gunadi yang menyebutkan ledakan COVID-19 di Kudus dipengaruhi oleh varian Corona India B1617.2 atau varian delta. Menurut Budi, penularan varian baru tersebut disebabkan oleh banyaknya pekerja migran Indonesia yang pulang dan juga aktivitas di kawasan pelabuhan laut.

Gejala Corona Varian Delta

Dokter menyebut belum ada kepastian soal gejala infeksi varian Delta. Meski belum banyak penjelasan terkait varian ini, para dokter mencatat gejala pasien varian Delta mencakup:

- Demam
- Sesak napas
- Kelelahan
- Nyeri otot atau tubuh
- Sakit kepala
- Kehilangan rasa atau bau (anosmia)
- Sakit tenggorokan
- Hidung tersumbat atau pilek
- Mual atau muntah
- Diare

Budi menyampaikan Corona varian Delta mendominasi di Kudus, Bangkalan dan Jakarta. Budi mengatakan varian ini lebih cepat penularannya. Karena itu, dia meminta penerapan protokol kesehatan diperketat.

"Karena ini penularannya lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan ini perlu benar-benar kedua hal tadi dipercepat atau diperhatikan, implementasi di lapangan dan juga akselerasi vaksinasi," ujar Budi.

Simak juga 'Tangkal Varian Delta, Vaksin AstraZeneca-Pfizer Disebut Efektif 90 Persen':

[Gambas:Video 20detik]



(idn/imk)