Viral Bupati Solok Ngamuk Gegara UGD Tolak Korban Kecelakaan-Tak Buka 24 Jam

Jeka Kampai - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 11:37 WIB
Solok -

Bupati Solok, Sumatera Barat, Epyardi Asda, mengamuk di sebuah puskesmas. Dia kesal karena pihak puskesmas tidak memberikan pelayanan kepada korban kecelakaan dengan alasan jam layanan unit gawat darurat (UGD) sudah tutup.

Video yang menampilkan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu tengah mengamuk viral di sejumlah media sosial. Dari video yang beredar, Epyardi terlihat datang ke Puskesmas Bingkung di Kecamatan Kubung Solok.

Dia mengecek ruang UDG yang sudah dalam keadaan tutup. Pimpinan Puskesmas dan staf langsung dikumpulkan.

Kepada Bupati, pihak puskesmas memberikan sebuah surat. Surat tersebut berisi pernyataan bersama staf dan pimpinan puskesmas, bahwa UGD tidak buka 24 jam, melainkan hanya dari pukul 08.00 sampai pukul 18.00 WIB.

Kondisi itulah yang membuat Epyardi marah. Dia kemudian berbicara dengan nada tinggi.

"Apa-apaan kalian ini. Di mana-mana di dunia, UGD itu buka 24 jam. Jangan kah hari biasa. Hari Sabtu-Minggu pun harus ada yang stand by. Saya sudah bilang, minimal empat orang harus standby," kata Epyardi.

Amukan Epyardi tak berhenti sampai di situ. Dia juga merobek-robek surat kesepakatan bersama tersebut dan melemparkannya ke lantai.

Mengamuknya Epyardi bermula dari adanya laporan masyarakat terkait penolakan puskesmas terhadap korban kecelakaan pada Jumat (11/6). Korban kecelakaan itu dilaporkan tidak mendapat pelayanan, karena pihak puskesmas beralasan jam layanan unit gawat darurat atau UGD sudah tutup.

"Ada yang mengalami kecelakaan, tapi ditolak. Alasannya, jam dinas sudah berakhir," kata Epyardi saat dihubungi detikcom.

Dia menyebut sidak itu dilakukannya pada Sabtu (12/6). Dia mengaku kesal dengan kebijakan Puskesmas tersebut.

"Saya kesal betul. Orang yang kecelakaan itu terbaring di puskesmas, lalu mencoba ketuk pintu UGD. Ada bidan, tapi menolak melayani. Alasannya di luar jam dinas dia," ucapnya.

Epyardi berjanji menindak tegas seluruh staf yang ada di Puskesmas Bingkung. Dengan perilaku seperti itu, mereka dianggap tak layak menjadi ASN.

(isa/haf)