Adakah Posisi Imam Besar dalam Islam? Ini Kata MUI

Tim detikcom - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 16:42 WIB
Waketum MUI Anwar Abbas
Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas (Foto: mui.or.id)
Jakarta -

Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas menjelaskan terkait istilah imam besar dalam Islam. Soal imam besar ini muncul dalam sidang Habib Rizieq Shihab.

"Dalam Islam itu kan nabi dan rasul, ya, kemudian yang melanjutkan perjuangan itu adalah ulama. Namanya al ulama waratsatul anbiya, ulama itu adalah penerima waris Nabi ya, sehingga melanjutkan cita-cita dan perjuangan Nabi," kata Anwar saat dihubungi, Senin (14/6/2021).

"Sehingga masalah imam ada imam masjid ya, ada imam dalam bentuk pemerintahan, ada imam dalam bentuk kegiatan sosiologis, imam itu orang yang di depan. Kalau istilah imam besar ya, imam besar Masjid Istiqlal ada kan, ya boleh saja mempergunakan itu," imbuhnya.

Anwar menjelaskan imam dapat diartikan seorang pemimpin, dapat juga diartikan sebagai pemimpin salat, maupun seseorang diangkat sebagai imam masjid suatu tempat, contohnya imam besar Masjid Istiqlal.

"Sebuah masjid mengangkat seorang jadi imam besarnya bisa saja, organisasi mengangkat seseorang sebagai imam besarnya boleh saja. Masjid Istiqlal itu kan pengurus masjidnya imam besar juga kan. Kalau nggak salah Menteri Agama yang menetapkan, mengesahkan," ujarnya.

Adapun dari segi sosiologis, misalnya, Anwar mencontohkan 'oh, dia imam kami', hal itu merujuk pada arti pemimpin di suatu tempat atau ada pula yang mengartikan secara sosiologis imam sebagai orang yang dituakan. Penyebutan ulama atau kiai di berbagai daerah juga berbeda, misalnya di NTB kiai disebut sebagai tuan guru.

Namun ada juga yang menggunakan istilah imam besar sebagai kata lain dari pemimpin di sebuah organisasi, contohnya FPI yang menyebut imam besar Habib Rizieq Shihab. Ada pula penggunaan imam untuk menyebut pemimpin di suatu negara.

"Imam itu bahasa kitanya pemimpin. Pemimpin besar Imam Khomeini, di Syiah ada Imam Khomeini, cuma di Syiah itu ada konsepnya presiden ya, ada raja, ada imam, kalau di Iran itu imam, Imam Khomeini kan," ujarnya.

Anwar mengungkap imam besar Habib Rizieq dapat dimaknai sebagai penyebutan pemimpin di dalam organisasi. Ia mengungkap tiap organisasi keagamaan memiliki panggilan berbeda kepada ketua umum atau dewan pembinanya.

Misalnya di PBNU itu ada istilah Tanfidziyah, ada Syuriah, ada Mustasyar, Rais Aam, bagi pemimpin maupun dewan pembinanya. Dengan begitu, boleh saja jika ada organisasi yang menyebut pemimpinnya sebagai imam besar, tetapi harus dimaknai sebagai imam besar kelompok itu saja.

"Ya boleh saja, istilahnya kan ada istilah ketua umum. Kalau di NU itu ada Tanfidziyah, ada Syuriah, ada Mustasyar kan gitu ya, kalau ketuanya kemarin Pak Shabri Lubis kan FPI, cuma mereka menggunakan istilah imam besar, kaya dewan pembina, kan kalau di partai kan ada ketua dewan pembina itu kan dianggap yang paling tinggi," ungkapnya.

"Umat Islam itu kan punya organisasi-organisasi itu kan, NU, Muhammadiyah, FPI. FPI rapat menunjuk Habib Rizieq sebagai imam besar, dia bertanya dia imam besar apa dia? Imam besar umat Islam, tapi imam besar yang di FPI, di NU nggak ada memakai istilah imam besar, di Muhammadiyah nggak ada istilah imam besar," sambungnya.

Sebelumnya, Kongres 212 telah mengangkat Habib Rizieq Shihab sebagai imam besar umat Islam Indonesia. Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Ma'arif mengatakan kongres itu menguatkan komitmen seluruh alumni mengangkat Habib Rizieq Shihab sebagai imam besar umat Indonesia.

"Inti dari maklumat kami semua peserta kongres menguatkan kembali komitmen kembali seluruh alumni 212, Habib Rizieq sebagai imam besar umat Indonesia. Oleh karenanya, meminta dengan sangat kepada pemerintah menghentikan kriminalisasi kepada kita seluruh kasus yang dimanipulasi," kata Slamet di panggung Reuni 212, Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12/2017).

Status Habib Rizieq Shihab Dipertanyakan Jaksa

Sebelumnya, tanggapan jaksa terhadap pleidoi Habib Rizieq Shihab merembet hingga ke status imam besar. Jaksa juga menyebut Rizieq kerap kali melempar tudingan tanpa dasar yang jelas.

"Bahwa Terdakwa dan penasihat hukum dituntut harus tajam atas kasus, masalah yang dihadapinya, bijak secara hukum, dan beriktikad dalam menghadapinya dengan dalil-dalil hukum yang kuat dan tidak perlu mengajukan pembelaan dengan perkataan yang melanggar norma bangsa dengan kata-kata yang tidak sehat yang mengedepankan emosional, apalagi menghujat," ucap jaksa saat membacakan replik atau tanggapan atas pleidoi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (14/6/2021).

Dalam perkara ini, Rizieq didakwa membuat keonaran berkaitan dengan penyebaran hoaks tes swab di RS Ummi, Bogor. Habib Rizieq dituntut 6 tahun penjara.

Menurut jaksa, Rizieq sembarangan menuding jaksa dan sejumlah tokoh sebagaimana dalam pleidoi Rizieq yang dibaca pada Kamis, 10 Juni kemarin. Jaksa menuding Rizieq sering mengumpat dengan kata-kata yang tidak etis.

"Sudah biasa berbohong, manuver jahat, ngotot, keras kepala, iblis mana yang merasuki, sangat jahat dan meresahkan, sebagaimana dalam pleidoi. Kebodohan dan kedungungan, serta kebatilan terhadap aturan dijadikan alat oligarki sebagaimana pada pleidoi," katanya.

"Kalimat-kalimat seperti inilah dilontarkan Terdakwa dan tidak seharusnya diucapkan yang mengaku dirinya ber-akhlakul karimah, tetapi dengan mudahnya Terdakwa menggunakan kata-kata kasar sebagaimana di atas. Padahal status terdakwa sebagai guru, yang dituakan, tokoh, dan berilmu ternyata yang didengung-dengungkan sebagaimana imam besar hanya isapan jempol belaka," imbuh jaksa.

Simak video 'Status Imam Besar Disorot, Pengacara HRS: Itu Klaim Jutaan Rakyat':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/tor)