Milenial Smartfarming BNI Cetak Petani Berkapasitas Ekspor di Bali

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 18:33 WIB
Millenial Smartfarming BNI di Bali
Foto: BNI
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (BNI) ikut membantu pengembangan UMKM bidang pertanian yang berorientasi ekspor. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan menggelar program Milenial Smartfarming.

Program Milenial Smartfarming merupakan Ekosistem pemberdayaan milenial melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital yang mengandalkan internet of things (IoT) dari hulu ke hilir. BNI menyediakan marketplace yang dikelola oleh para petani milenial. Program ini sekaligus untuk meningkatkan inklusi keuangan desa.

Pendekatan digital yang diterapkan BNI tersebut kali ini menyasar para petani muda di Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Program Millenial Smartfarming di Buleleng, Bali menggandeng forum petani 'Muda Keren' yang diprakarsai oleh Bli Agung Wedha yang mengusung konsep pertanian digital kultural.

Dalam program Milenial Smartfarming dilaksanakan serangkaian aktivitas, di antaranya coaching clinic kepada petani milenial mengenai penggunaan aplikasi Agree Suites untuk pendataan petani dan offtaker, pada Jumat (11/6/2021).

Dalam kesempatan tersebut, para petani juga dilatih menggunakan alat water dripping sebagai bagian dari CSR BNI. Setelah coaching clinic, para peserta acara melakukan pemupukan massal secara simbolis. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilakukan dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat.

Peran BNI pada kegiatan ini adalah memberikan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha rayat (KUR) Tani. Selain itu, diberikan pendampingan kepada petani milenial dalam memanfaatkan teknologi digital dan informasi pada aktivitas ekosistem pertanian, serta menumbuhkan peranan Offtaker dalam penyerapan hasil pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan besarnya peran teknologi terhadap hasil pertanian membuatnya berharap banyak pada generasi muda. Ia bersyukur saat ini sudah mulai banyak petani muda yang dilibatkan dalam penerapan teknologi digital di budidaya pertanian dan diharapkan ini bisa menjadi penopang ekonomi Bali, karena sektor Pariwisata yang terdampak COVID-19.

"Kita tidak perlu impor untuk komoditas yang justru menjadi keunggulan kita. Saya harapkan program ini bisa dikawal dengan baik bersama-sama dan tercapainya reformasi dunia pertanian secara modern," ungkap Syahrul dalam keterangan tertulis, Jumat (11/6/2021).

Sementara itu, Direktur Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto menjelaskan Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali memiliki keunggulan di sektor pertanian. Ia menyebut pertanian modern harus didorong semua pihak.

"Apalagi sektor pertanian sedang memasuki era baru yang memiliki pendekatan online sistem dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). langkah intervensi pertanian baru harus dilakukan agar Indonesia benar-benar maju, mandiri dan berdaulat pangan," kata Sis Apik.

Agung Wedha, inisiator Petani Muda Keren (PMK) menambahkan penggunaan aplikasi teknologi informasi dan penggunaan alat IoT petani membuat petani lebih termotivasi untuk bertani karena mengetahui sistem pemasaran yang lebih adil dan menghasilkan bahan pangan sehat yang berkualitas dan harganya memiliki daya tawar yang tinggi.

Pada kesempatan terpisah, Pgs. Pemimpin Divisi Bisnis Usaha Kecil dan Program BNI, I Nyoman Setiawan menyampaikan Penggunaan teknologi industri 4.0 mutlak diperlukan untuk kondisi saat ini, karena sudah menjadi tuntutan objektif yang harus dilakukan petani agar tidak terjebak pada pola dan cara-cara lama yang kurang produktif sehingga mengebiri produktivitas pertanian nasional.

"Smartfarming adalah pertanian dengan ciri pemanfaatan teknologi artificial intelligence, robot, internet of things, drone, blockchain dan big data analitik untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, dan berkelanjutan," paparnya.

Setiawan menambahkan penerapan aplikasi dan teknologi pertanian menjadi sangat penting karena selain pendataan, juga dapat menghubungkan antara petani dengan mitra lainnya, antara lain offtaker, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BumDes).

Digitalisasi sistem pertanian di Indonesia, menurut Setiawan, memang sangat menguntungkan bagi semua pihak, terlebih lagi bila didukung oleh semua pihak tidak hanya petani, tetapi juga para stakeholder terkait.

Sektor pertanian diharapkan dapat bergerak lebih optimal melalui suntikan KUR sehingga bisa memenuhi swasembada pangan. Adapun realisasi KUR BNI di sektor pertanian yang telah disalurkan selama tahun 2021 hingga bulan Mei sebesar Rp 3,2 triliun serta menyentuh 78 ribu penerima KUR di seluruh Indonesia.

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pertanian Syahrul yasin Limpo, Bupati Kabupaten Buleleng Putu Agus Suradnyana, Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik WIjayanto, Pemimpin Wilayah Depansar BNI I Gusti Myoman Dharmaputra, Senior Project Manager Agrosolution PT Pupuk Indonesia Supriyoto, Tribe Leader Agriculture Telkom Indonesia Agus Suhartono, Deputi Direktur OJK Regional Bali & Nusra I Nyoman Hermanto Darmawan, Deputi Direktur Bank Indonesia Bali & Nusra Dony H Heatubun, serta petani milenial perwakilan kelompok tani dan petani di Desa Gobleg dan sekitarnya.

(ncm/ega)