Sumbang Alat RiTx Bertani, BNI Luncurkan Smartfarming di Karanganyar

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 20:20 WIB
BNI
Foto: Bayu Ardi Isnanto
Karanganyar -

Bank Negara Indonesia (BNI) meluncurkan gerakan Smartfarming untuk pertama kalinya di Jawa Tengah, yakni di Kabupaten Karanganyar. Para petani diajak bercocok tanam menggunakan teknologi modern.

Dalam peluncuran, hadir Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Jaringan BNI, Tambok P Setyawati.

Melalui program corporate social responsibility (CSR), BNI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk 250 petani jagung. Selain itu, BNI juga menyumbang dua alat RiTx Bertani senilai Rp 54 juta.

Adapun alat tersebut bekerja memanfaatkan teknologi sensor tanah dan cuaca berbasis AI (Artificial Intelligence) dan IOT (Internet of Things). Dengan alat ini, petani bisa memantau kondisi tanah dan cuaca secara realtime. Satu alat dapat memantau sekitar 50 hingga 100 hektare.

Tambok mengatakan program tersebut sebelumnya telah dilakukan di lima titik. Yakni di Garut, Pasaman Barat, Sukabumi, Situbondo, dan Dairi.

"Karanganyar ini daerah yang keenam namun yang pertama di Jawa Tengah. Tahun ini kita luncurkan di tujuh daerah," kata Tambok dalam peluncuran di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Rabu (12/2/2020).

Tambok juga memastikan bahwa petani juga akan mendapatkan pendampingan dalam menggunakan alat modern tersebut. Tak hanya proses budidaya, pendampingan dilakukan sampai tahap pascapanen.

"Pada musim panen, hasil produksi petani akan diserap oleh mitra kami," ujarnya.

Sementara di akhir acara, Syahrul menyampaikan saat ini sudah waktunya petani menggunakan teknologi untuk bercocok tanam. Dengan teknologi diharapkan pertanian dapat lebih efisien dan memperoleh hasil lebih baik.

"Dengan handphone, kita tahu apa yang ada di tanah ini, cukup pupuknya atau tidak kita tahu. Kita juga bisa tahu kapan jagung ini harus dijual, berapa harganya," kata Syahrul.

Diperkirakan dengan teknologi tersebut, petani dapat mengoptimalkan penggunaan pupuk hingga 30 persen dan meningkatkan produktivitas hingga 25 persen.

"Saya perkirakan kalau 1 hektare itu satu bulan bisa Rp 5 juta. Sekarang gaji pegawai berapa?" katanya.

(akn/ega)