Pak Ali Baal Masdar Tolong, Janda 5 Anak Ini Butuh Operasi Tumor di Leher

Abdy Febriady - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 12:21 WIB
Warga Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, bernama Supri (57) hanya bisa terbaring di rumahnya. Janda 5 anak ini sudah lebih enam bulan mengidap tumor di leher. (Abdy/detikcom)
Warga Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, bernama Supri (57) hanya bisa terbaring di rumahnya. Janda 5 anak ini sudah lebih enam bulan mengidap tumor di leher. (Abdy/detikcom)
Polewali Mandar -

Warga Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), bernama Supri (57) hanya bisa terbaring di rumahnya. Janda lima anak ini sudah lebih dari enam bulan mengidap tumor di lehernya.

Supri ialah warga Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. Tumor yang semakin besar di lehernya membuat tubuh Supri semakin lemah.

Sang anak Jumaati mengatakan benjolan tumor di leher Supri awalnya seukuran kelereng, yang tidak mendapat perhatian lantaran dianggap benjolan biasa.

"Awalnya benjolan itu hanya seukuran kelereng dan sudah puluhan tahun. Dianggap biasa karena tidak sakit dan menurutnya tidak mengganggu," ujar Jumaati kepada wartawan di rumahnya, Jumat (11/6/2021).

Namun Supri merasakan sakit pada leher bagian belakang. Akhirnya dia pergi ke rumah sakit (RS) untuk mendapat pengobatan.

"Setelah itu dia merasa sakit pada bagian leher, akhirnya kita bawa ke rumah sakit, apalagi benjolan di lehernya mulai membesar," ujar Jumaati.

Setelah setengah bulan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali Mandar, Supri terpaksa dipulangkan. Pihak keluarga mengaku mulai kesulitan biaya. Saat itu pihak RS berencana merujuk Supri ke Makassar untuk dilakukan operasi.

Warga Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, bernama Supri (57) hanya bisa terbaring di rumahnya. Janda 5 anak ini sudah lebih enam bulan mengidap tumor di leher. (Abdy/detikcom)Pihak keluarga sangat berharap ada uluran tangan baik dari pemerintah maupun dermawan untuk membantu biaya pengobatan Supri. (Abdy/detikcom)

"Kita disuruh bawa ke Makassar, tetapi karena tidak ada biaya, akhirnya kami minta pulang," ujar Jumaati.

Selama berada di rumah, pihak keluarga berupaya mengobati Supri secara alternatif dengan mengandalkan obat tradisional. Namun malang, bukannya membaik, kondisi Supri semakin buruk. Tumor di leher Supri juga terus membesar.

"Selain berobat medis, keluarga mencoba mencari kesembuhan dengan berobat ke dukun, tapi kondisinya tidak berubah, bahkan semakin parah," kata anak Supri lainnya, Nurmiati.

Untuk bertahan hidup, sehari-hari Supri hanya mengandalkan anak lelakinya. Jangankan untuk biaya berobat, penghasilan sang anak sebagai buruh penambang pasir terkadang tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Pihak keluarga sangat berharap ada uluran tangan baik dari pemerintah maupun dermawan untuk membantu biaya pengobatan Supri. Saat ini Supri masih bergantung bantuan orang lain, termasuk untuk makan maupun minum.

(jbr/jbr)