Arti Umroh Menurut Bahasa yang Harus Dipahami Umat Muslim

Kristina - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 18:14 WIB
CLARIFIES THAT THE UMRAH PILGRIMAGE CAN BE UNDERTAKEN AT ANY TIME OF THE YEAR -- In this photo released by Saudi Ministry of Hajj and Umrah, Muslims practice social distancing while praying around the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque during the first day umrah pilgrimages were allowed to restart, in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia, Sunday, Oct. 4, 2020. The umrah pilgrimage, or smaller pilgrimage, can be undertaken at any time of the year. A very small, limited number of people donning the white terrycloth garment symbolic of the Muslim pilgrimage circled Islams holiest site in Mecca on Sunday after Saudi Arabia lifted coronavirus restrictions that had been in place for months. (Saudi Ministry of Hajj and Umrah via AP)
Foto: AP Photo
Jakarta -

Umroh merupakan ibadah di Baitullah yang bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Arti umroh menurut bahasa adalah ziarah.

Menurut ulama Hanafi dan Maliki, umroh hukumnya sunnah.

Allah SWT menjadikan Baitullah sebagai tempat untuk dikunjungi umat Islam di seluruh dunia pada setiap tahunnya. Dalam QS. Al Baqarah ayat 125 Dia berfirman:

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ


Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud" (QS. Al Baqarah: 125).

Dikutip dari buku Fiqh Ibadah oleh Zaenal Abidin, umroh menurut bahasa artinya ziarah. Sedangkan menurut syara', umroh adalah menziarahi ka'bah, melakukan tawaf di sekelilingnya, bersa'i antara Shafa dan Marwah dan mencukur atau menggunting rambut dengan cara tertentu dan dapat dilaksanakan setiap waktu.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 196, Allah SWT telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyempurnakan ibadah haji dan umroh karena-Nya.

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ

Arab-latin: Wa atimmul-hajja wal-'umrata lillah

Artinya: "Dan sempurnakan lah ibadah haji dan umroh karena Allah." (QS. Al Baqarah: 196).

Haji dan umroh merupakan ibadah yang dilakukan di Tanah Suci Makkah. Perbedaan keduanya terletak pada waktu dan pelaksanaannya. Haji hanya bisa dilakukan pada bulan haji yakni bulan Dzulhijjah.

Sedangkan umroh bisa dilakukan sewaktu-waktu. Adapun Abu Hanifah berpendapat, umroh makruh dilakukan pada 5 hari yakni Arafah, Idul Adha, dan tiga hari Tasyriq.

Tata cara umroh juga berbeda dengan ibadah haji. Berikut tata cara umroh dilansir dari situs Kemenag.

1. Miqat di Masjid Dzulhulaifah atau Abyar 'Ali

Miqat adalah tempat memakai ihram dan berniat umroh. Miqat terletak di Madinah. Miqat dilakukan dengan mandi, mengenakan pakaian ihram, berwudhu dan mengerjakan sholat sunnah ihram 2 rakaat lalu dilanjutkan dengan niat.

Adapun bacaan niat umroh sebagai berikut:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِعُمْرَةِ

Arab-latin:Labbaika Allahumma bi 'Umrah

Artinya: "Aku sambut panggilan-Mu ya Allah dengan umrah."

Setelah melakukan ihram, baik pria maupun wanita harus memperhatikan larangan berikut:

Larangan bagi pria:

-memakai pakaian biasa
-memakai alas kaki yang menutupi mata kaki
-menutup kepala dengan peci, topi, dan sebagainya

Larangan bagi wanita:

-memakai kaos tangan
-menutup muka

Larangan bagi pria dan wanita:

-memakai wangi-wangian
-memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut atau bulu
- memburu atau mematikan binatang apa pun
-menikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi
-bermesraan atau berhubungan intim
-mencaci, bertengkar atau mengeluarkan kata-kata kotor
-memotong tanaman di sekitar Mekkah

2. Menuju Masjidil Haram dan melalukan salat tahiyatul masjid sebanyak 2 rakaat

Dalam perjalanan menuju Masjidil Haram dari miqat sebaiknya memperbanyak bacaan talbiyah yang diucapkan Rasulullah SAW ketika umroh dan haji. Adapun bacaannya sebagai berikut:

لَبَّیكَ الّلهُمَّ لَبَّیكَ، لَبَّیكَ لاشَریكَ لَكَ لَبَّیكَ، إنَّ الْحَمدَ وَ النِّعمَةَ لَكَ وَ الْمُلكَ، لاشَریكَ لَكَ لَبَّیكَ

Arab-latin: Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik

Artinya: "Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu ya Allah dan tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, serta kekuasaaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu."

3. Thawaf dan persiapannya

Sebelum masuk Masjidil Haram, jamaah dianjurkan berwudhu dan masuk lewat pintu mana saja. Nabi Muhammad SAW biasanya masuk lewat pintu Babus Salam atau Bani Syaibah. Begitu memasuki masjidil haram dianjurkan untuk membaca doa.

Selanjutnya, jamaah bisa menuju tempat thawaf atau mataf. Jamaah mulai thawaf dari garis lurus dekat Hajar Aswad, antara pintu Kabah dan tanda lampu hijau di lantai atas Masjidil Haram.

Setiba di rukun Aswad, jemaah disunahkan menyentuhnya, beristilam dan menciumnya jika memungkinkan, dengan tanpa menyakiti dan melukai orang lain saat berdesakan di dekat Hajar Aswad.

Jika tidak memungkinkan menyentuh Hajar Aswad, jemaah bisa beristilam dengan melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad. Jika hal itu juga tidak memungkinkan, cukup menghadapkan badan ke Ka'bah memberi isyarat dengan tangan dan mengecupnya dengan mengucapkan "Bismillahi Allahuakbar."

4. Sholat di Makam Ibrahim

Setelah thawaf disunahkan melaksanakan sholat dua rakaat di belakang makam Ibrahim atau tempat manapun di Masjidil Haram kemudian berdoa di Multazam.

Setelah jemaah selesai melaksanakan salat sunah thawaf, dan berdoa di Multazam, jemaah disunahkan minum air Zamzam yang diambil dari tempat yang telah disediakan di galon atau kran air Zamzam kemudian berdoa.

5. Sai

Sai dalam umroh dimulai dari Safa ke Marwah yang dihitung sebagai satu kali perjalanan. Sai berakhir di Marwah yang bisa dilakukan dengan berjalan, tapi pada batas di antara dua lampu hijau berlari-lari kecil.

Ibadah sai adalah penghargaan Allah SWT kepada istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang bolak-balik mencari air untuk putranya Nabi Ismail.

Saat melakukan sai disunahkan dengan berjalan kaki bagi yang mampu, boleh juga menggunakan kursi roda atau skuter matic bagi yang udzur. Adapun dalam melakukan sai ini, jamaah disunnahkan suci dari hadats dan berturut-turut selama tujuh putaran.

6. Tahallul

Terakhir adalah melakukan tahallul, yakni bercukur/memotong rambut kepala. Bagi jamaah laki-laki dapat mencukur gundul atau memotong sebagian rambut kepala sambil membaca doa mencukur rambut.

Sedangkan perempuan cukup dengan sebagian rambut kepala minimal tiga helai.

Adapun jamaah yang botak, cukup menempelkan pisau cukur atau gunting di kepala sebagai isyarat mencukur rambut. Setelah tahallul, maka terbebaslah semua larangan-larangan dalam ihram dan berakhirlah rangkaian umroh.

(nwy/nwy)