MAKI 'Serang' MA soal Alasan Sunat Vonis Eks Bupati Talaud: Mengada-ada!

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 06:51 WIB
Ketua Yayasan Mega Bintang 1997 Boyamin Saiman saat ditemui di PN Surakarta, Senin (29/3/2021)
Boyamin Siaman (Foto: Ari Purnomo/detikcom)

Boyamin kemudian menyoroti keanehan yang dilakukan MA yang menyunat vonis kasus korupsi. Dia menyinggung napi koruptor Fahmi Darmawansyah yang menyuap Kalapas Sukamiskin Wahid Husen karena dermawan.

"Memang agak aneh-aneh Mahkamah Agung itu, dulu kasusnya yang dianggap menyuap Kepala Lapas Sukamiskin itu, Darmawansyah itu kan alasannya pertimbangannya karena dia dermawan, masak orang korupsi karena nyuap itu karena dermawan, terus dianggap meringankan, lah besok lagi orang beralasan saya nggak nyuap, saya dermawan," kata dia.

"Karena prinsipnya kalau dermawan itu kepada fakir miskin, anak yatim tidak ada kaitannya perkara. Masak dermawan kepada kepala lapas karena dapat kamar yang baik, ya jelas-jelas suap. Ini banyak hal yang menjadi menurun kualitas pertimbangannya. Meskipun saya menghormati keputusan itu, kita harus menghormati dan mematuhi hukum meskipun dirasa salah," tutur dia.

Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Bupati Kepualuan Talaud, Sri Wahyumi Manalip, dari 4,5 tahun penjara menjadi 2 tahun penjara. MA mengungkap alasan penyunatan adalah barang bukti suap yang disiapkan penyuap belum sampai ke tangan Sri.

"Ternyata dan terbukti Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum menerima barang-barang tersebut. Jangankan menerimanya, ternyata Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum pernah melihat barang-barang tersebut, karena Bernard Hanafi Kalalo dan Benhur Laenoh sebelum menyerahkan barang dimaksud terlebih dahulu telah ditangkap petugas KPK di Hotel Mercure - Jakarta," ujar majelis PK yang diketuai Suhadi, dengan anggota Eddy Army dan M Askin.


(lir/zak)