MA Sunat Vonis Eks Bupati Talaud karena Rolex Rp 224 Juta Diamankan KPK Duluan

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 12:22 WIB
Bupati nonaktif Kepulauan Talaud Sri Wahyumi diperiksa KPK. Tak sendiri, pengusaha yang juga penyuap Bupati Talaud Bernard Hanafi Kalalo turut diperiksa KPK.
Sri Wahyumi (ari/detikcom)
Jakarta -

Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Bupati Kepualuan Talaud, Sri Wahyumi Manalip, dari 4,5 tahun penjara menjadi 2 tahun penjara. MA mengungkap alasan penyunatan adalah barang bukti suap yang disiapkan penyuap belum sampai ke tangan Sri.

Hal itu terungkap dalam putusan PK Sri yang dilansir website MA, Rabu (9/6/2021). MA menyatakan barang bukti gratifikasi yang baru diterima Sri baru handphone Thuraya seharga Rp 28.088.064. Di sisi lain, pemilik PT Bentara Satya Persada dan PT Karya Bakti Mandiri, Bernard Hanafi Kalalo, telah menyiapkan sejumlah barang tapi belum sampai ke tangan Sri. Sebab, barang itu diamankan KPK lebih dulu sebelum sampai ke Sri. Jadi delik gratifikasi belum terpenuhi.

Barang itu adalah:

1. Tas tangan merek Balenciaga seharga Rp 32.995.000.
2. Tas tangan merek Chanel seharga Rp 97.360.000
3. Jam tangan merek Rolex seharga Rp 224.500.000
4. Cincin merek Adelle seharga Rp 76.925.000
5. Anting merk Adelle seharga Rp 32.075.000.

"Ternyata dan terbukti Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum menerima barang-barang tersebut. Jangankan menerimanya, ternyata Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum pernah melihat barang-barang tersebut, karena Bernard Hanafi Kalalo dan Benhur Laenoh sebelum menyerahkan barang dimaksud terlebih dahulu telah ditangkap petugas KPK di Hotel Mercure - Jakarta," ujar majelis PK yang diketuai Suhadi, dengan anggota Eddy Army dan M Askin.

Selain itu, kata MA, uang Rp 100 juta yang diberikan oleh Bernard ke Sri yang dititipkan ke Ketua Pokja ULP Ariston Sasoeng tidak pernah sampai ke tangan Sri.

"Ternyata dan terbukti Pemohon Peninjauan Kembali/ Terpidana sama sekali tidak pernah menerima uang tersebut karena telah dipergunakan oleh Ariston Sasoeng bersama Benhur Lalenoh untuk keperluan pribadinya," tutur majelis pada Agustus 2020.

Suap dari Benhur itu guna memuluskan langkah Bernard dalam memenangi lelang proyek revitalisasi Pasar Beo dan revitalisasi Pasar Lirung di Talaud tahun anggaran 2019. Benhur diminta Sri Wahyumi menawarkan sejumlah proyek kepada swasta dengan commitment fee 10 persen kepada Sri Wahyumi. Dari situ, sejumlah aliran suap yang diterima Sri Wahyumi, beberapa di antaranya diberikan melalui Benhur.

Sri akhirnya bebas pada April 2021. Namun dalam hitungan jam, Sri ditangkap KPK lagi karena diduga menerima gratifikasi Rp 9,5 miliar terkait dengan proyek infrastruktur.

"KPK meningkatkan perkara ini ke tahap penyidikan sejak September 2020 dan menetapkan tersangka SWM (Sri Wahyumi Maria Manalip) sebagai tersangka," ucap Deputi Penindakan KPK Karyoto dalam konferensi pers, Kamis (29/4/2021).

Simak video 'Balada Eks Bupati Sri Wahyumi, Bebas dari Bui-Diciduk KPK Lagi':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/mae)