KPK Kecewa Vonis Eks Bupati Talaud Disunat Jadi 2 Tahun Penjara

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 20:51 WIB
Ali Fikri
Ali Fikri (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Bupati Kepulauan Talaud, Sri Wahyumi Manalip, dari 4,5 tahun menjadi 2 tahun penjara karena bukti suap yang disiapkan penyuap belum sampai ke tangan Sri. KPK menyayangkan potongan vonis tersebut.

"Namun dalam putusan PK (peninjauan kembali) atas hukuman tindak pidana korupsi ini, kami menyayangkan bahwa putusan tersebut lebih rendah dari ancaman minimal yang diatur dalam UU Tindak Pidana Korupsi," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (9/6/2021).

Ali mengingatkan bahwa tindakan korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa dan memberikan dampak buruk dalam masyarakat, bahkan perekonomian negara. Ali berharap MA kembali mempertimbangkan hal itu.

"Kita pahami bersama bahwa korupsi sebagai extraordinary crime, telah memberikan dampak buruk bagi masyarakat, pembangunan, dan perekonomian negara," kata Ali.

"Sehingga harapan kami MA dapat mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat dalam memutus suatu perkara korupsi, sekaligus untuk memberikan pembelajaran publik agar jera melakukan korupsi," lanjut Ali.

Meski begitu, Ali tetap menghormati putusan dan kewenangan hakim tersebut. "KPK menghormati independensi tugas dan kewenangan hakim dalam memutus suatu perkara," katanya.


Putusan MA Terkait Vonis Eks Bupati Talaud

Sebelumnya, MA mengungkap alasan penyunatan adalah barang bukti suap yang disiapkan penyuap belum sampai ke tangan Sri. Hal itu terungkap dalam putusan PK Sri yang dilansir website MA, Rabu (9/6/2021).

MA menyatakan barang bukti gratifikasi yang baru diterima Sri baru handphone Thuraya seharga Rp 28.088.064. Di sisi lain, pemilik PT Bentara Satya Persada dan PT Karya Bakti Mandiri, Bernard Hanafi Kalalo, telah menyiapkan sejumlah barang tapi belum sampai ke tangan Sri. Sebab, barang itu diamankan KPK lebih dulu sebelum sampai ke Sri. Jadi delik gratifikasi belum terpenuhi.

Barang itu adalah:

1. Tas tangan merek Balenciaga seharga Rp 32.995.000.
2. Tas tangan merek Chanel seharga Rp 97.360.000
3. Jam tangan merek Rolex seharga Rp 224.500.000
4. Cincin merek Adelle seharga Rp 76.925.000
5. Anting merk Adelle seharga Rp 32.075.000.

"Ternyata dan terbukti Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum menerima barang-barang tersebut. Jangankan menerimanya, ternyata Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana sama sekali belum pernah melihat barang-barang tersebut, karena Bernard Hanafi Kalalo dan Benhur Laenoh sebelum menyerahkan barang dimaksud terlebih dahulu telah ditangkap petugas KPK di Hotel Mercure Jakarta," ujar majelis PK yang diketuai Suhadi, dengan anggota Eddy Army dan M Askin.

Suap dari Benhur itu guna memuluskan langkah Bernard dalam memenangi lelang proyek revitalisasi Pasar Beo dan revitalisasi Pasar Lirung di Talaud tahun anggaran 2019. Benhur diminta Sri Wahyumi menawarkan sejumlah proyek kepada swasta dengan commitment fee 10 persen kepada Sri Wahyumi. Dari situ, sejumlah aliran suap yang diterima Sri Wahyumi, beberapa di antaranya diberikan melalui Benhur.

Sri akhirnya bebas pada April 2021. Namun, dalam hitungan jam, Sri ditangkap KPK lagi karena diduga menerima gratifikasi Rp 9,5 miliar terkait dengan proyek infrastruktur.

"KPK meningkatkan perkara ini ke tahap penyidikan sejak September 2020 dan menetapkan tersangka SWM (Sri Wahyumi Maria Manalip) sebagai tersangka," ucap Deputi Penindakan KPK Karyoto dalam konferensi pers, Kamis (29/4).

(eva/eva)