Novel dkk Ibaratkan Hasil TWK KPK Rekam Medis: Kami Berhak Tahu!

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Selasa, 08 Jun 2021 18:16 WIB
Tentang Novel Baswedan, Penyidik Top KPK tapi Dibuang Gara-gara TWK
Novel Baswedan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Novel Baswedan menjelaskan alasan dirinya berkali-kali meminta KPK menyerahkan hasil tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai yang tak lulus. Menurutnya, hasil TWK itu seperti rekam medis yang perlu diketahui.

"Saya bersama kawan-kawan berkali-kali meminta agar hasil tes yang dilakukan itu bisa diberikan kepada kami. Kami telah meminta juga ke KPK ke pejabat BPID Badan Pengelola Informasi dan Data. Di sana kami meminta agar hasil tes itu kami diberi tahu," kata Novel setelah menyerahkan sejumlah bukti baru di Komnas HAM, Jakarta Pusat, Selasa (8/6/2021).

Novel menuturkan hasil TWK itu penting untuk diketahui oleh tiap pegawai yang tak lulus. Dengan demikian, kata Novel, mereka bisa tahu kesalahan apa yang membuat mereka tidak lulus.

"Kami meyakini apa yang disebut TMS atau tidak memenuhi syarat dan lain-lain kami tidak yakin itu dilakukan dengan cara yg benar, begitu juga penyampaian di forum publik yang seolah-olah membuat stigma, ini masalah yang serius ya bahkan ketika kami sendiri meminta untuk agar hal yang sepenting itu untuk kepentingan kami pribadi tidak juga diberikan ini kan aneh. Asesmen yg baik dilakukan dengan cara profesional dengan transparan dengan alat ukur yang benar dan banyak hal," sambungnya.

Sementara Kasatgas Penyelidik KPK Harun Al Rasyid mengibaratkan hasil TWK seperti rekam medis. Untuk itu, kata Harun, mereka berhak mengetahui penyakit apa yang diderita sampai menyebabkan tak lulus TWK.

"Kenapa kami meminta hasil asesmen itu, karena kalau kami dianggap orang berpenyakit ibaratnya kami katakanlah punya penyakit jantung. Kami sendiri ingin penyakit itu bisa sembuh. Sekarang ini kami sakit apa? Sakit jantung kah, sakit yang lain, diabet kah, atau apa, agar apa pengobatannya agar tepat. Kami punya kepentingan agar hasil itu bisa dibuka. Loh, itu kan rekam medis kami sebenarnya. Kalau ada information konsumen itu kami berhak atas catatan medis kami itu berhak," ujarnya.

Harun juga mempertanyakan keberadaan negara dalam sengkarut TWK KPK. Menurutnya, sangat penting bagi mereka untuk mengetahui hasil tes tersebut.

"Kalau kami ibaratnya orang yang kemudian dengan bahasa yang kasar kami brengsek, orang brengsek yang nggak bisa dibina. Lalu kemana negara ini? Orang yang melakukan kejahatan saja perlu dilajukan pembinaan di dalam LP, terus kami apa? Mau dibuang begitu saja apa bagaimana? Nah ini yang penting untuk kami mendapatkan kejelasan terkait dengan hasil assessment atau hasil tes itu," imbuhnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.