Jejak Andi Arief Vs Hasto: Dari Faksi Setan hingga Koalisi 2024

Matius Alfons - detikNews
Jumat, 04 Jun 2021 12:43 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief saling silang pendapat mengenai hoax surat suara tercoblos.
Hasto Kristiyanto (kiri) dan Andi Arief (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tercatat kerap berseteru terkait sejumlah persoalan. Jejak perseteruan keduanya terjadi sejak sebelum Pilpres 2019.

Sebagaimana diketahui, perseteruan terbaru antara Andi Arief dan Hasto Kristiyanto terkait kemungkinan koalisi Pilpres 2024. Hasto beberapa hari lalu menyebut PDIP tidak cocok berkoalisi dengan Partai Demokrat.

Pernyataan Hasto itu lantas dijawab Andi Arief melalui cuitannya pada Jumat (4/6/2021), bahwa Partai Demokrat kerap berkomunikasi dengan PDIP terkait koalisi 2024. Hanya, Andi Arief menyebut komunikasi dengan PDIP non-kubu Hasto.

Berikut ini jejak perseteruan Andi Arief vs Hasto

1. Dedi Mizwar Dibajak Jadi Timses Jokowi

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto pada 2018 sempat menanggapi tudingan Andi Arief, yang saat itu menjabat Wasekjen Partai Demokrat, terkait 'pembajakan' kader Demokrat Deddy Mizwar. Andi Arief saat itu menyerang Hasto secara langsung lantaran dinilai menggaet Deddy Mizwar menjadi jubir timses Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Saya tidak mengerti kenapa Ibu Megawati merestui Hasto yang rajin membajak kader Demokrat untuk gabung ke tim Jokowi. Apakah PDIP sudah sangat miskin kader berkualitas? Kami bukan hanya marah, tapi sudah taraf enek," kata Andi lewat Twitter, Kamis (30/8).

Pernyataan tersebut lantas dijawab Hasto dengan santai. Hasto menyebut PDIP tidak pernah membajak pihak lain dan Deddy Mizwar bergabung lantaran mendukung kepemimpinan Jokowi.

"PDIP tidak pernah membajak pihak lain, karena cara itu pragmatisme. Bergabungnya Deddy Mizwar itu lebih pada memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai pemimpin yang merakyat, berdialog, mengedepankan prestasi dan kinerja," kata Hasto saat dihubungi terpisah.

Lihat juga video 'Elektabilitas Demokrat Naik, Andi Arief: Bonus KLB Deli Serdang':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

2. Faksi Setan

Tak berhenti sampai pada persoalan pembajakan, Andi Arief dan Hasto Kristiyanto kembali berseteru. Perseteruan keduanya lantaran cuitan Andi Arief yang menyebut Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto, cs sebagai faksi setan.

"Di dalam rejim Jokowi ini ada faksi setan. Misalnya Sekjen PDIP Hasto dkk. JANGAN lupakan bagaimana Hasto ini operasi melumpuhkan KPK lewat Abraham Samad. Faksi Setan itu seperti juga setan pandai merayu, memberi angin surga jabatan. SALAM buat pimpinan Faksi setan Hasto Sekjen PDIP dari direktur Pertamina yang cantik itu. Pertamina sedang sekarat, kesulitan keuangan. Itulah akibat menempatkan orang karena dasar perasaan," tulis Andi Arief lewat akun Twitternya pada Senin (7/1/2019).

Hasto saat itu menyerahkan cuitan Andi Arief yang menyebut dirinya faksi setan ke masyarakat. Menurutnya, masyarakat bisa menilai mana pernyataan yang baik dan yang sampah masyarakat.

"Nggak usah ditanggapi dulu, namanya cuitan yang sebentar-sebentar juga hilang. Rakyat yang menilai. Kerja kami cukup banyak untuk rakyat, jadi rakyatlah yang menilai mana cuitan yang positif, yang berguna bagi bangsa, mana yang cuitan sebagai bagian dari sampah masyarakat," kata Hasto di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1/2019).

3. Kecolongan 2 Kali Mega Lawan SBY

Keduanya kembali berseteru ketika membahas terkait cerita Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyatakan Megawati Soekarnoputri kecolongan dua kali oleh SBY. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi cerita tersebut dengan mengutip semboyan Sanskerta 'Satyameva Jayate', yang bermakna hanya kebenaran yang berjaya. Hasto menyinggung langkah SBY pada 2004 yang disebutnya bertindak seakan-akan dizalimi.

"Dalam politik, kami diajari moralitas politik, yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri, termasuk istilah 'kecolongan dua kali', sebagai cermin moralitas tersebut," kata Hasto.

Saat itu Andi Arief pun menanggapi Hasto dengan meminta agar persoalan kecolongan Megawati oleh SBY sebanyak dua kali itu tidak perlu ditangisi. Dia juga meminta Hasto tidak mengadu domba.

"Kecolongan dua kali Ibu Megawati melawan SBY dalam pilpres adalah kenyataan sejarah, tak perlu ditangisi, toh, kecolongan melalui pilihan rakyat. Bukan melalui penghianatan menjatuhkan lewat MPR," kata Andi Arief di Twitter, Jumat (19/2/2021).

"Sebagai Sekjen, Hasto jangan membenturkan, tapi mendudukkan posisi yang benar," sebut Andi Arief.

Simak perseteruan Andi Arief dan Hasto lainnya di halaman berikutnya.

4. Koalisi untuk Pilpres 2024

Perseteruan kali ini diawali oleh pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyebut PDIP tidak cocok berkoalisi dengan Partai Demokrat. Saat itu, Hasto menyebut ada perbedaan DNA antara PDIP dan Partai Demokrat

"Dengan Demokrat berbeda, basisnya berbeda. (Demokrat) partai elektoral, kami adalah partai ideologi tetapi juga bertumpu pada kekuatan massa. Sehingga kami tegaskan dari DNA-nya berbeda kami dengan Partai Demokrat," kata Hasto dalam diskusi Para Syndicate, Jumat (28/5).

Pernyataan Hasto tersebut lantas dijawab oleh Andi Arief, yang menyebut koalisi dengan PDIP sama saja dengan bunuh diri politik.

"Menjelang 2024 ini Partai Demokrat, seperti juga partai lain, juga sedang memikirkan koalisi politik untuk pilpres. Di tengah ketidakpuasan atas pemerintah yang sudah meluas tentu kerugian besar jika Demokrat ikut dalam koalisi PDIP. Sama juga dengan bunuh diri politik. Kami memilih cara dengan cermat dan menghitung banyak aspek," ujarnya.

Selain itu, Andi Arief justru memastikan, jika ada komunikasi antara PDIP dan Demokrat, maka komunikasi itu bukan dengan kubu Hasto.

"Kami sudah menjalin komunikasi dengan PKS, Golkar, PKB, PPP, NasDem, Gerindra, dan PDIP (bukan kubu Hasto)," kata Andi Arief dikutip melalui akun Twitter @Andiarief_, Jumat (4/6/2021).

(maa/gbr)