Duet Cak Imin-AHY Sulit Terwujud

Eva Safitri - detikNews
Jumat, 04 Jun 2021 08:11 WIB
Cak Imin dan AHY
Cak Imin dan AHY (dok. detikcom)
Jakarta -

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) diisukan akan berduet menjadi capres dan cawapres 2024. Duet itu dinilai sulit terwujud.

"Saya melihatnya jauh panggang dari api, sulit terwujud, karena dua syarat utama untuk paslon 2024 itu dua-duanya nggak terpenuhi. Syarat pertama dan paling pokok adalah UU, yakni 20 persen kursi DPR. Syarat itu 575x20 persen= 115. Nah, itu belum terpenuhi karena kursi PKB 58 dan Demokrat 54. Kalau ditambahkan, baru 112. Sekitar 19,5 persen. Jadi belum terpenuhi dan harus menggandeng partai lain," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada wartawan, Kamis (3/6/2021).

Qodari mengatakan harus ada tambahan partai lain, paling tidak satu partai lagi. Namun, menurutnya, partai tambahan itu pasti juga ingin mendapatkan posisi.

"Di sini kerumitannya, timbul partai lain itu partai mana dan apakah mau partai itu bergabung dalam koalisi ini karena Cak Imin Ketum PKB capres, AHY ketum Demokrat wapres, satu lagi jadi apa dong?" ujarnya.

Lebih lanjut Qodari mengatakan, dari sisi elektabilitas, Cak Imin dan AHY termasuk rendah, sehingga sulit terwujudnya duet Cak Imin-AHY.

"Kedua, partai lain juga sulit dicari karena elektabilitas Cak Imin dan AHY sama-sama terbatas, kedua-duanya tidak satu pun menduduki peringkat 3 besar. Jadi kecil sama kecil, sulit. Jadi menurut saya, ide gagasan Cak Imin-AHY ini lebih ke sebuah political gymnastic alias senam politik saja, bukan suatu yang berpotensi menjadi kenyataan. Ya secara realitas sulit diwujudkan karena di atas kertas pun tidak ketemu," tuturnya.

Sama halnya dengan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Adi Prayitno. Dia mengatakan duet Cak Imin-AHY terbilang berat. Alasannya adalah elektabilitas.

"Politik itu seni kemungkinan. Cak Imin-AHY mungkin saja berduet. Tapi kemungkinan ini relatif berat. Pertama, dari segi elektabilitas calon tak signifikan, terutama Cak Imin, yang belum muncul di radar survei. Padahal sudah kampanye dari periode sebelumnya. Kalau AHY relatif leading, selalu masuk 5 atau 6 besar yang elektabilitasnya signifikan," ujarnya.

Kemudian dari sisi elektabilitas partai, keduanya dinilai sepadan, sehingga, menurut Adi, mesti ada tambahan partai lain.

"Kedua, apa mungkin AHY mau jadi cawapres Cak Imin mengingat elektabilitas AHY jauh lebih signifikan? Dari segi partai pun, Demokrat dan PKB relatif sepadan," ujarnya.

"Ketiga, kalau PKB dan Demokrat sudah mematok duet Cak Imin-AHY, lalu partai mana lagi yang bakal merapat? PKS dan PAN agak sulit karena sepertinya punya jagoan sendiri. PKS misalnya diasosiasikan dengan Anies, PAN mulai mesra dengan PDIP. Termasuk PPP, yang bakal lebih realistis akan gabung dengan capres yang mungkin menang," lanjut Adi.

Adi mengatakan wacana Cak Imin-AHY hanya sebagai upaya meramaikan kontestasi politik pada pilpres 2024. Dia mengatakan paling tidak Cak Imin bisa membawa suara dari kaum nahdliyin.

"Tapi bisa dipahami wacana duet Cak Imin dan AHY bagian upaya memasukkan Cak Imin dalam bursa panas capres 2024. Minimal Cak Imin mulai dinominasikan sebagai capres yang juga perlu diperhitungkan mengingat posisinya sebagai Ketum PKB, yang representasi politik kaum nahdliyin," tuturnya.

Simak penjelasan PKB-PD terkait itu Cak Imin-AHY, di halaman berikut