Andre Rosiade Puji Erick Thohir soal Penyelamatan Garuda Indonesia

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 16:17 WIB
Andre Rosiade
Foto: Istimewa
Jakarta -

Rendahnya tingkat penerbangan akibat pandemi COVID-19 membuat PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) kesulitan untuk bertahan. Apalagi ditambah dengan utang Garuda yang kini mencapai Rp 70 triliun dan diperkirakan bertambah Rp 1 triliun tiap bulannya. Selain itu, kesulitan Garuda Indonesia tercermin dari penawaran pensiun dini yang ditawarkan kepada karyawan.

Menanggapi masalah tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi masalah BUMN Andre Rosiade menilai banyak permasalahan di tubuh Garuda Indonesia yang perlu segera dibenahi. Ia berharap peran aktif pemerintah untuk segera melakukan penyelamatan bagi maskapai kebanggaan nasional Indonesia ini.

"Kondisi industri penerbangan saat ini memang terpuruk akibat pandemi. Tetapi saya berharap Indonesia tetap memiliki maskapai penerbangan nasional atau national flag carrier yaitu Garuda Indonesia," kata Andre dalam keterangan tertulis, Kamis (3/6/2021).

Politisi Partai Gerindra itu juga menjelaskan pada rapat sebelumnya sudah disepakati antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN Erick Thohir bahwa pemerintah telah menyetujui akan memberikan dana talangan atau pinjaman kepada PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) sebesar Rp 8,5 triliun. Namun yang dicairkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani hanya Rp 1 triliun.

"Tahun lalu kita sudah memberikan solusi bersama, bahwa tahun lalu itu Komisi VI DPR RI dan Kementerian BUMN menyetujui pinjaman Rp 8,5 triliun ke Garuda Indonesia. Tapi faktanya, yang cair itu hanya Rp 1 triliun dari Menteri Keuangan yang akhirnya menyebabkan permasalahan Garuda Indonesia ini menjadi berdarah-darah," tuturnya.

Oleh karena itu, Andre menilai pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya mendukung penyelamatan maskapai Garuda Indonesia. Sebab, lanjutnya, Sri Mulyani tidak menjalankan keputusan rapat antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN.

"Jadi kita harus cari solusi yang terbaik. Kalau pemerintah mau mendukung sepenuhnya ya dukung, jangan di depan mau dukung tapi di belakang setengah hati. Menteri BUMN pasangan badan tapi Menteri Keuangannya tidak mau mendukung," ungkapnya.

Dengan demikian, Andre mendesak Erick Thohir untuk mengingatkan Sri Mulyani pada saat rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo terkait tidak dilaksanakannya keputusan rapat antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN dalam opsi penyelamatan Garuda Indonesia dalam memberikan dana talangan sebesar Rp 8,5 triliun.

"Nah ini menjadi PR baru buat kita semua. Jadi Menteri Keuangan ini harus segera diingatkan, kalau sudah ada kesepakatan antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN ya harusnya dilaksanakan," tukasnya.

"Jadi ini penting untuk menjadi catatan Pak Menteri agar segera dibawa ke ratas (rapat terbatas) dengan Presiden Jokowi bahwa jangan sampai kesepakatan antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN tidak bisa berjalan karena Menteri Keuangan," tambah Andre.

Sebelum melakukan rapat, Andre bersama Erick Thohir juga menemui Serikat Pekerja Garuda Indonesia yang menyampaikan aspirasinya ke Komisi VI DPR RI untuk penyelamatan national flag carrier Garuda Indonesia yang kini terancam keberadaannya akibat kondisi keuangan yang terus merugi. Mereka berharap perusahaan maskapai nasional itu tetap dipertahankan dan tidak direstrukturisasi dan diganti menjadi perusahaan maskapai nasional yang baru.

Di samping itu, Andre juga memaparkan dugaan praktek korupsi yang terjadi di tubuh Garuda Indonesia pada masa manajemen sebelumnya baru terasa di era pandemi COVID-19 ini. Itulah yang membebani manajemen Garuda Indonesia saat ini akibat utang masa lalu.

"Kita tahu bahwa manajemen Garuda Indonesia saat ini terbebani utang masa lalu, bahkan diduga kita mendengar bahwa pesawat Garuda itu bisa break event point 100% kalau bisa terisi 40% di sayap kanan dan sayap kiri itu terisi karena dugaan korupsi dan dugaan mark up yang luar biasa," papar Andre.

Ia menjelaskan, praktik dugaan korupsi dan mark up dana perusahaan tidak terendus pada era sebelumnya yang membuat perusahaan terus merugi karena pada saat itu penerbangan masih normal dan masih bisa gali lubang tutup lubang untuk menutupi keuangan perusahaan.

"Nah ini terbongkar pada saat kita menghadapi pandemi saat ini karena sudah tidak ada lagi pemasukan di Garuda," imbuhnya.

Meski demikian, Andre tetap mengapresiasi manajemen Garuda Indonesia yang kini dipimpin oleh Irfan Setiaputra sebagai Direktur Utama. Sebab, saat ini bisnis kargo Garuda Indonesia bisa tembus di angka 30% dan kadang mencapai 50% yang selama ini hanya mencapai 10% saja pendapatannya.

"Terus terang saya mengapresiasi manajemen baru, meskipun penumpang tidak ada mereka bisa melakukan terobosan dan sekarang kargo sudah tembus di angka 30% hingga 50%. Dulu pendapatan Garuda dari kargo itu hanya 10% dan sekarang sudah hampir setengahnya," tandas Andre.

(fhs/ega)